Saya lahir di Jakarta tahun 1973 sbg anak ketiga. Saat itu bapak telah menyelesaikan kuliah spesialis kedokteran-nya, dan harus bertugas di Bali. Bapak memang telah berjanji akan kembali ke Bali dan mengabdikan hidupnya untuk menolong orang. Oleh karenanya bapak tidak mengharapkan dibayar saat menolong. Namun ternyata hal tersebut tidak begitu disukai oleh rekan2 koleganya. Banyak sekali dokter yg membenci bapak, berusaha melukai bapak, bahkan sampai sekarang ketika 2 kakak saya telah menjadi dokter spesialis.

Bapak meninggal saat saya masih berumur 8 tahun. Hidup cukup sulit saat itu, karena pensiun bapak tidak seberapa. Sejak kecil saya sudah berkomitmen untuk tidak meminta atau mengganggu Ibu untuk membeli sesuatu. Saya tidak keberatan menggunakan hanya 2 stel pakaian seragam selama SMA, meskipun di beberapa tempat telah ditambal sulam. Sepeda motor pun tetap menggunakan Honda edisi pertama, Astra C800. Sekolah pun saya pilih agar tetap gratis.

Alasan ini juga yg melatarbelakangi mengapa tahun 1992 saya memilih STT Telkom sebagai tempat kuliah saya. Karena selain gratis dan mendapatkan uang saku sekedarnya, saya juga mendapatkan kepastian masa depan untuk bekerja di Telkom. Tidak perlu berpikir muluk-muluk, meskipun saat itu saya diterima di Informatika ITB dan juga di program Habibie yg mengirimkan siswa2 ke luar negri. Yang terpenting adalah belajar dgn giat untuk selalu menjadi nomor 1 !

Tapi ternyata menjadi nomor 1 tidak hanya penuh dengan perjuangan, namun juga harus melalui fase2 sulit dalam hidup saya. Mencoba bersahabat dgn mereka yg bukan dari Bali, ternyata sangat melelahkan, karena mereka mendapatkan doktrin bahwa kami berbeda. Menjadi nomor 1 diantara mereka yg menganggap dirimu lebih rendah, it’s really a pain in the ass!

Lulus 4 tahun kemudian dengan nilai yg seharusnya menjadi tertinggi, saya mendapatkan kesempatan dari Telkom untuk melanjutkan kuliah di Boston selama 2 tahun. Namun dgn adanya krisis moneter dimana kurs 1 USD bergeser jauh dari Rp 2000 menjadi Rp 18000 membuat saya bekerja keras mencari dollar di negara Paman Sam. Ini bukan pekerjaan sulit bagi saya, karena sejak kecil saya sudah terbiasa berhemat dan bekerja keras. Alhasil saya berhasil mengumpulkan lebih dari lebih dari cukup yg sebagian besar saya kirim ke rumah.

Dua tahun di Boston merupakan masa terindah dalam hidup saya. Disanalah saya merasakan kedamaian dan pencerahan diri. Sampai sekarang saya selalu bermimpi untuk bisa kembali ke sana, dan bahkan mungkin menetap disana.

Sekembalinya dari Boston saya ditempatkan sebagai dosen, kembali ke kampus, di STT Telkom. Sebagai dosen, saya melatih diri dari seorang yg pendiam dan pelajar otodidak menjadi seseorang yg harus mampu mengorganisir knowledge dalam pikiran untuk bisa mentransfer-nya secara gradual dan transparan kepada mahasiswa. Sebagai dosen pula saya memiliki banyak sekali waktu luang yg saya pergunakan untuk melakukan pengayaan diri di bidang jaringan komputer. Kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan saya di jaringan komputer akhirnya terbuka, saat tahun 2004 saya dipilih untuk menjadi kapuslahta, kepala pusat pengolahan data. Puslahta bertanggung jawab untuk menjamin data, sistem, dan akses-nya memiliki availabilitas dan reliabilitas yg tinggi.

Kendala terbesar saat menjabat kapuslahta adalah semua sistem dikembangkan di atas platform freebsd, dimana saya tidak memiliki kapabilitas sama sekali. Dengan semangat dan keinginan keras untuk diakui, selama beberapa bulan saya mempelajari freebsd dan cara yg tepat dan cepat untuk memulainya adalah dgn mencoba puluhan kali melakukan instalasi freebsd.

Tiga tahun di Puslahta telah cukup untuk memberi sedikit warna untuk perkembangan IT di kampus STT Telkom. Komitmen saya bahwa resource adalah dari dan untuk seluruh mahasiswa memberi saya banyak ide untuk mengembangkannya, mencakup menyediakan resource untuk portal mahasiswa dan hak akses wireless dari kos2an mahasiswa di seputar kampus.

Kemudian roda kehidupan bergulir, saya harus mengabdi ke induk perusahaan, Telkom. Bergabung di Proyek OBC (OSS-BSS-CSS) yang menjadi kawah candradimuka untuk pembuatan system terintegrasi bagi operasional Telkom, dengan code name Infusion. Disini saya belajar tentang banyak hal terkait IT, mulai dari aplikasi-aplikasi kelas dunia sampai ke tata kelola proyek untuk comply dengan audit. Selama 2 tahun saya bergelut dengan dunia IT modern, melakukan PMO (Project Management Office) dan melakukan sosialisasi ke seluruh pelosok Indonesia, mulai dari ujung barat adalah Medan, sampai yang paling timur adalah Manado.

Dua tahun berikutnya bergerak dari PMO menjadi developer Oracle Form dan SAP CRM. Mendapatkan konsep berpikir universal dari aplikasi kelas dunia tersebut, terkait bagaimana seharusnya aplikasi itu didesain dan dibuat untuk perusahaan besar spt Telkom, yang mensyaratkan dan memprioritaskan audit diatas segalanya.

Dan sekarang dimulai kembali babak baru dari kehidupan, kembali mengabdi di dunia penuh warna dan idealisme, dunia pendidikan. Semoga ilmu dan pengalaman selama ini bisa bermanfaat untuk pengembangan IT di IMTelkom (Institut Manajemen Telkom) yg dahulu dikenal dgn nama STMB Telkom.