Pertama kali mendengar istilah Digital Divide ini adalah pada saat menghadiri konferensi APEC di Bali, dan itu sudah 12 tahun yg lalu.
Awalnya bingung juga, apa yg dimaksud dgn Digital Divide. Tapi ternyata penjelasannya sangat sederhana. Kalau di-Indonesiakan, artinya menjadi kesenjangan digital dimana aksesibilitas informasi yg masih timpang antara berbagai daerah dan lapisan masyarakat.

Seiring dengan klaim bahwa Indonesia masih memiliki kesenjangan digital yg sangat tinggi, maka berbagai program mulai digelontorkan untuk mengurangi kesenjangan ini, mulai dari program pemerintah pusat, pemda, bahkan berbagai operator telekomunikasi juga ikut2an mengambil porsinya.

Yang menjadi pertanyaan dalam pikiran saya, kenapa kita begitu ingin untuk mengurangi kesenjangan tsb? Apakah hanya karena merasa malu menjadi bangsa yg tertinggal dalam hal akses informasi?

Apakah jika semua orang bisa mengakses informasi yg sama
lalu semuanya akan menjadi lebih baik?

Sekali lagi kita telah mengukur orang lain dgn kacamata kita
sendiri, menganggap kita (dan anda) lebih maju dan lebih berbudaya karena udah mengenal Internet, sementara mereka adalah gatek sehingga perlu diedukasi.

Saya asumsikan kita bukan termasuk gatek karena dengan bisa membaca tulisan ini saja, ini berarti kita sudah mengenal Internet.

Jadi terbayang saat saya masih kecil, dimana televisi cuma ada siaran dari TVRI, dengan hiburan yg sangat minim (cuma hari Minggu ada “Little House on the Prairie”). Namun itu justru membuat saya jadi belajar atau bermain di luar bersama teman2 yg lain dalam interaksi sosial yg harmonis. Sementara saat ini, media hiburan (i.e. informasi) bertebaran dimana2, membuat anak2 menjadi lebih apatis dgn dunia luar. Masih adakah yg bermain gobak sodor? kelereng? gambaran?
congklak? benteng? ketepel? dinoboy?

Inikah hasil dari program2 untuk mengatasi kesenjangan digital?

Hari ini saya mendengar langsung klaim bahwa investasi 10% di bidang infrastruktur ICT akan memberi peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,38%. Benarkah pertumbuhan tsb krn ICT?

Sayangnya saya bukan analis apalagi pakar, saya hanya pengguna aplikasi (itupun hanya pengguna, bukan kontributor apalagi developer), jadi tidak bisa berkomentar banyak 🙂