Apa yang katakan dan disarankan oleh Shrii Shrii Anandamurti tentang Jnani, Karmi, dan Bhakta?
Parama Tattva adalah seperti pepohonan mangga yang rindang. Selanjutnya tiga orang : Jnani (pelaku Jnana yoga), Karmi (pelaku karma yoga) , dan Bhakta (pelaku bhakti yoga) mendekati pohon mangga itu… apa yg akan dilakukan Jnani? Ia akan menghitung berapa banyak daun dan buah yg ada d pohon mangga, sementara Jnani menghitung daun dan buah mangga, seorang Karmi akan memanjat dan menyentuh buah, daun dan bunga mangga, dan apa yg dilakukan seorang Bhakta?  Bhakta akan menikmati buah mangga dan merasakan manisnya mangga. Kemudian apa yg terjadi di malam hari? Para bhakta selesai menyantap semua mangga, Jnani dan Karmi akan ribut bertengkar ….
Ada begitu banyak kitab suci. Weda dan purana, ada begitu banyak buku, diakui atau tidak diakui.. para jnani akan bertengkar berdebat diantara mereka sendiri mengenai tata bahasa, hasanta maupun visarga, dari sloka-slokanya. Dan apa yg dilakukan karmi?  Mereka tidak akan berdebat tetapi mereka bekerja seperti lembu pemutar mesin pemeras minyak atau seperti manusia mendorong tuas penggilingan tahu. Mereka bergerak lebih seratus mil perhari.. tapi tidak ada kemajuan. Semua gerakan mereka terbatas pada ruangan tertentu itu saja. Ya Karmi seperti itu.
Tapi apa yg dilakukan Bhakta? Kitab-kitab suci seperti lautan ksirarnawa lautan susu.. mereka akan mengaduk lautan itu.  Setelah diaduk apa yang didapat mereka? Mentega dan dadih…lalu sang Bhakta akan menyantap menteganya, lalu di malam hari Jnani dan Karmi akan bertengkar mengenai siapa yg berhak atas dadih sisanya….
Maka saran Shrii Shrii Anandamurti, jadilah seorang Bhakta…!!!

Menurut konsep Ananda Marga, seorang Jnani, tujuannya adalah sesuatu yang impersonal. Tuhan adalah sesuatu yang impersonal, sesuatu yang teoritis, sehingga pendekatan yang dilakukan adalah analitis.. pemahaman analitis tentang Maha Purusha adalah penggabungan Energy murni dan Kesadaran murni, yang dalam penggabungan yg stabil semua benda tidak ada yang berbeda alias Sunya.. kosong tapi penuh.. nanti ini menjadi konsep awal creation dalam pemahaman jnana tantra…..
contoh seorang Jnani adalah Albert Einstin .. (rumus relativitas Einstin sangat selaras dgn Janana tantra E=mc dikwadratkan), seorang jnani butuh kemampuan intelektual tertentu. Sementara bagi seorang “karmi” tuhan bukanlah pribadi dan bukan pula impersonal atau sebaliknya tapi mempertahankan kaitan antar keduanya .. seorang karmi akan melakukan perbuatan sebaik mungkin untuk mengubah kondisi psikisnya dg perlakuan phisik nya untuk pendekatan pada Maha Purusha.. butuh stamina fisik tertentu…
Anandamurti mengatakan, dalam kehidupan seorang karmi pengalaman frustasi lebih sedikit dibandingkan dengan yang dialami seorang Jnani. Tapi dalam kehidupan seorang Bhakta, tuhan adalah suatu pribadi, bapaknya sendiri, roh dari jiwanya sendiri.
Kehidupan manusia terbatas. Manusia datang ke dunia ini untuk waktu yang sangat singkat. Jika dalam waktu yg sangat singkat ini orang mencoba untuk mempelajari seluruh kitab suci weda, maka ini akan memakan waktu lebih dari 100 tahun, sementara kehidupan manusia tidaklah sampai segitu.. jadi menyusuri jalan Jnana “secara murni” hanya menghabiskan waktu dan eksistensi kita sepanjang hidup… selanjutnya karma sendiri tidak ada batasnya, sedangkan struktur manusia adalah sesuatu yang terbatas, memiliki stamina dan kapasitas yg terbatas. Jadi … jalan Bhakti sebagai seorang Bhakta tidak hanya tidak beresiko, tapi adalah pilihan yang bijaksana dan merupakan pendekatan dari orang cerdas. Inggih begitu kiranya.. tetapi dalam kenyataannya Jnana dan karma diperlukan dalam melakukan Bhakti…. pranam