Tag

, ,

Pada hari ke-17 perang besar Bharathayudha (Mahabharatha) mendekati usai, dengan kalahnya/robohnya Karna di medan perang. Para Pandawa bergembira merayakan kemenangan besar tersebut. Sebaliknya, Kaurawa merasa kehilangan harapan sama sekali, sebab Karna adalah kstria utama andalan mereka. Para Pandawa bersuka-cita atas kalahnya lawan berat mereka. Tetapi Krishna duduk terpisah dan tampak tenggelam dalam kesedihan. Arjuna datang mendekati¬nya dan bertanya , kenapa beliau merasa sedih pada hari yang seyogyanya mereka patut bersuka-cita dalam menyambut kemenangan.
Krishna memberitahu Arjuna bahwa Negara Bharatha telah kehilangan prajurit/ksatrianya yang sangat utama pada hari itu. Pahlawan yang telah membawa kejayaan dan nama baik Negara Bharatha, telah roboh menyedihkan. Aku merasa sedih karena Negara telah kehilangan seorang pahlawannya yang begitu besar. Mendengar kata-kata ini, Arjuna memandang Krishna dengan perasaan terkejut. Dia berkata, “Krishna, untuk memberi jaminan kemenangan pada Pandawa. Tuanku telah memilih peran sebagai sais/kusir. Oleh karena itu Pandawa memperoleh kemenangan. Bukannya bersuka-cita atas kemenangan ini, tetapi kenapa malah tuanku merasa sedih atas kekalahan musuh kita?” Krishna menjawab, “Karna adalah perwujudan dari pengorbanan. Pengorbanan adalah identik dengan Karna.
Di seluruh dunia engkau tidak bisa menemukan orang lain yang memiliki semangat pengorbanan seperti Karna. Dalam kegembiraan maupun duka cita, kemenangan atau kekalahan, dia selalu siap untuk berkorban. Apakah engkau memiliki semangat berkorban seperti itu? Tidak”. Lalu Krishna meminta Arjuna untuk mengikutinya.
Kegelapan merayap menyelimuti medan perang Kuruksetra, Arjuna terus mengikuti Krishna. Dengan suara manisnya Krishna berseru, “Karna,.. Karna!”. Karna bernafas tersengal-sengal, menjelang detik-detik terakhirnya. Mendengar ada orang yang memanggil namanya, Karna berteriak/Siapa memanggilku? Aku di sini”. Mengikuti arah datangnya suara tersebut, Krishna mendekati Karna. Sebelum mendekati Karna, Krishna menyamar mengambil wujud sebagai seorang Brahmin yang miskin.
Karna bertanya kepadanya orang asing itu, Tuan, anda siapa? Krishna sebagai seorang Brahmin menjawab, “Sudah sejak lama aku mendengar tentang ketenarannmu sebagai seorang yang murah hati. Engkau telah memperoleh kemashyuran sebagai dhana Karna (Karnadermawan besar/the great giver). Hal ini aku datang untuk meminta sesuatu darimu. Aku mengharap engkau dapat memberiku sedikit denra/pemberian”. Tentu, aku akan memberikan apa pun yang engkau inginkan dari diriku”, jawab Karna. “Aku akan melangsungkan pernikahan putraku. Aku perlu sedikit emas”, kata Krishna. O, ya., kasihan… pergilah dan temui istriku, dia akan memberimu emas sebanyak yang kau butuhkan”, kata Karna.
Brahmin tersebut tertawa, dia berkata, “Apakah demi sedikit emas, aku harus pergi menyusuri sepanjang jalan ke Hastinapura? Jika engkau berkata bahwa engkau tidak berniat untuk memberi apa yang aku minta, aku akan meninggalkanmu”. Karna membuka mulutnya, ia menunjukkan emas pada giginya dan berkata, “Aku akan memberikan ini untukmu; kamu bisa mengambilnya. Dengan nada seolah-olah jijik, Krishna berkata ,”Apa ini yang kau sarankan? Apa engkau mengharap aku untuk merusak gigimu dan mengambil emasnya? Bagaimana mungkin aku bisa melakukan tindakan yang begitu sadis? Aku ini seorang Brahmin.
KARNA MEMPERSEMBAHKAN HATINYA SENDIRI KEPADA KRISHNA
Segera Karna mengambil sebuah batu di dekatnya dan memukulkan pada giginya dan kemudian menyerahkannya kepada Brahmin tersebut. Krishna yang menyamar sebagai Brahmin ingin menguji lebih jauh: Apa engkau memberiku gigi-emas yang berlumuran darah sebagai pemberian/derma? Maaf, aku tidak bisa menerima ini, aku akan pergi sekarang”, katanya. Karna memohon, “Swami, tunggu sebentar”. Meskipun dalam keadaan sulit bergerak, Karna dengan susah payah mengeluarkan panahnya dan membidikkan ke angkasa. Segera hujan tercurah dari awan.
Setelah membersihkan gigi tersebut dengan air hujan, Karna menyerahkan dengan kedua tangannya. Krishna lalu memperlihatkan wujud aslinya. Karna terperangah; “Tuan, anda sesungguhnya siapa?. Krishna berkata, “Aku Krishna, aku sungguh kagum dengan semangatmu dalam berkorban. Dalam keadaan/kondisi apa pun, semangat berkorbanmu tidak pernah pudar/ mengendor. Mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan!” Sembari memandang kemuliaan/keindahan wujud Krishna, Karna berkata dengan mencakupkan tangan, “Krishna!, Aapadh baandhava (Penolong bagi mereka yang menderita/sedih), Loka rakshaka (Pelindung Dunia)!
O. Tuhan, Engkau yang menggemgam alam semesta di telapak tangan-Mu, berkah apa lagi yang perlu aku dapatkan dari diri-Mu? Saat-saat terakhir hidupku, aku sangat beruntung menutup mata sambil memandang wujud-Mu yang Ilahi. Ini rahmat yang luar biasa bagiku. Berkah ini sudah cukup bagiku. Dapat melihat wujud Tuhan sebelum ajal (seseorang meninggal) adalah tujuan/harapan bagi umat manusia. Engkau telah datang padaku dan merahmati aku dengan penampakan wujud-Mu. Ini sudah cukup bagiku. Aku persembahkan-salam hormatku kepada-Mu”.
Arjuna mengamati seluruh kejadian ini. Krishna berpaling pada Arjuna dan berkata, “Apa kamu memiliki jenis pengorbanan semacam ini?” Arjuna menundukkan kepalanya, diam tanpa kata. Tuhan memuji keagungan sifat pengorbanan dalam diri seseorang. Dari semua jenis pengorbanan, yang paling mulia adalah pengorbanan untuk Tuhan (Of all kinds of sacrifice, the greatest is the sacrifice made for God). “Oh Tuhan! Hati yang telah engkau berikan kepadaku, aku persembhakan kepada-Mu. Apa lagi yang lain yang dapat aku persembahkan di kaki padma-Mu?. Aku bersujud di hadapan-Mu, Terimalah persembahanku”. Inilah doa yang diucapkan oleh Karna kepada Krishna.
Mudah-mudahan penggalan caritas di atas yang kami petik dari “Sathya Sai Speaks” dapat menggugah hati kita dan sekaligus memberi inspirasi. 

Om Shanti, shanti, shanti,Om.