Tag

,

Setelah 10 hari berlibur di Bali, akhirnya harus kembali ke kenyataan (tanggung jawab, pekerjaan, etc.). Naik pesawat paling pagi, sampai di Bandung cukup surprise juga karena taksi bandara sudah menggunakan argo, tidak lagi pakai patokan harga seperti sebelumnya. Dan hasil akhirnya memang jadi lebih murah dari sebelumnya, meskipun ada tambahan Rp 10.000 untuk surcharge + biaya tunggu di bandara.

Surprise kedua terjadi saat menyetir mobil yg dititipkan di kantor untuk menuju ke rumah. Setelah 10 hari di Bali menyetir mobil, cukup membuat tersenyum juga melihat kembali cara berkendara di Bandung. Padahal belasan tahun menyetir di Bandung baru kerasa bahwa menyetir di Bandung itu cukup membuat deg2an dan dapat tertular penyakit naik darah  🙂

Beberapa contoh perbandingan menyetir mobil di Bali dan di Bandung hasil pengalaman pribadi. Silahkan diperiksa apakah ini di Bali atau di Bandung:

  1. Saat mobil menunggu lampu merah di jalan yg 2 jalur, sepeda motor ikut mengantri dan tidak mengambil jatah jalur yg berlawanan arah
  2. Saat mobil mengantri lampu merah, meskipun ada ruang antara mobil dan pinggir jalan, mobil lain tetap tidak memaksa masuk ke ruang tsb
  3. Saat mobil mengantri karena macet, hanya 1x terlihat sepeda motor yang menggunakan trotoar
  4. Saat mobil ingin berbelok, sepeda motor di sebelahnya otomatis berhenti untuk memberi kesempatan mobil berbelok

Sepertinya memang masyarakat di Bali sudah terbiasa untuk tidak terburu2 di jalan, bahkan ada pepatah “waktu tidak berlaku di Bali, semua bergerak dengan sangat lambat”  🙂