Perploncoan dalam balutan MOS

Tag

,

Bulan Agustus, bulan di mana mahasiswa baru sedang memasuki tahapan untuk diterima sebagai mahasiswa di kampus yg disebut MOS (Masa Orientasi Studi).

Wait! Tahapan untuk diterima sebagai mahasiswa? bukannya sudah diterima ya?

Oh… itu mudah, ganti saja namanya dengan “calon mahasiswa baru”, toh nanti baru disahkan sebagai mahasiswa saat sidang senat terbuka setelah masa MOS selesai.

Jadi kalau nda ikutan MOS tidak bisa disahkan sebagai mahasiswa baru?

Sayangnya belum pernah ada yg berani untuk mengambil kemungkinan “emang kalau nda ikutan MOS, berani gitu nda menerima saya sebagai mahasiswa baru?” Semuanya pasrah dibentak, disuruh pake asesori aneh, menjalankan hukuman fisik.

Dulu kita memberi nama “plonco” untuk kegiatan ini, bahkan tidak jarang dilakukan di luar kampus dan dilakukan bertahap, mulai dari kampus, turun ke jurusan, lalu dilanjutkan oleh himpunan, turun lagi oleh unit kegiatan mahasiswa.

plon.co
(n) calon mahasiswa yang sedang mengikuti acara kegiatan pengenalan kampus

Itu adalah definisi plonco menurut KBBI (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/plonco). Nda ada aspek teriak, hukuman (push-up, squat jump), pake pakaian atau asesori yg aneh2, dan juga nda ada tugas yg aneh2. Hanya pengenalan kampus.

Tapi kalau ada MOS (masa orientasi studi) atau MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah) yg ada  teriak dan hukuman, apakah itu berarti kampusnya yg sedang dikenalkan ke mahasiswa baru memang spt itu?

Nda kebayang kalau para panitia yg teriak2 tsb diperlakukan sama saat mereka sidang skripsi, apakah mereka akan mau menerima alasan “biar nda cengeng” dan “biar kuat menghadapi kenyataan hidup” ?

Saat kuliah di luar, MOS isinya adalah pengenalan kampus. Dibagi ke dalam grup2 kecil sekitar 10 orang, di-assign ke 1 orang senior, lalu diajak keliling, memperkenalkan kehidupan kampus. Dimana laboratorium dan gimana cara makai laboratorium. Dimana perpus dan gimana caranya pinjam buku di perpus. Dimana student center dan gimana caranya gabung ke salah satu unit mahasiswa.

Mudah2an kedepannya tidak ada lagi budaya premanisme yg sudah menjadi legacy selama puluhan tahun ini 🙂

Belajar tentang semangat hidup dari Naruto

Tag

, , , , ,

Anime!

Sejak pertama kali membaca manga DragonBall, langsung suka. Apalagi ada manga yg berwarna spt Tapak Sakti dan Tiger Wong, dan kebahagiaan pun bertambah saat Gramedia Merdeka (Bandung) menyediakan 1 koleksi yg terbuka dan membolehkan pengunjung membacanya, sepanjang dibaca sambil berdiri  😀

Itu jaman kuliah yg harga buku komik lumayan mahal untuk ukuran mahasiswa yg dengan Rp 800 sudah bisa buat beli sepiring nasi goreng plus telor dadar (atau dicampur)

Sekarang sudah malas membaca manga, lebih seru nonton versi anime-nya karena lebih hidup dan banyak side story (cerita tambahan yg tidak ada di versi komik manga-nya). Banyak anime yg sudah ditonton, tapi sampai saat ini yg paling bekesan adalah Naruto sampai Naruto Shippuden-nya. Bahkan sampai saat anak bertanya ttg “dapat tugas bercerita di sekolah, enaknya cerita apa ya pa?” saya jawab “kenapa nda Naruto aja?”…. dan spt sebuah keniscayaan, respon saya disambut dg gelak tawa  😀

Meskipun jurus2 ninja-nya banyak yg sureal dan aneh, sebenarnya banyak yg bisa kita pelajari dari kisah hidup Naruto dan Sasuke, saingan dan sekaligus juga sahabatnya. Mereka sama2 yatim piatu sejak kecil, mereka sama2 dipersekusi oleh penduduk desa Konoha, mereka sama2 dalam 1 team ninja. Naruto bercita2 ingin menjadi hokage, pimpinan tertinggi desa Konoha, dan Sasuke bercita2 ingin membalas dendam pada kakaknya yg membantai seluruh keluarga besarnya.

Namun mereka memilih jalur yg sangat berbeda untuk mendapatkan tujuannya. Naruto berusaha berteman dg penduduk desa yg memusuhinya agar mereka mau mengakui keberadaan Naruto, bahkan sampai melindungi penduduk desa saat diserang oleh Pain Nagato. Sebaliknya, Sasuke memilih untuk memusuhi balik penduduk desa yg tidak mendukungnya, bahkan ingin membantai semua yg mendukung pembantaian keluarga besarnya.

Berikut yg saya dapatkan dari Internet ttg apa yg bisa kita pelajari dari setiap karakter di dunia Naruto:

Naruto is a show of many wisdoms.

Iruka taught me… not to judge people by their reputations but by their personalities.
Haku taught me… that there is no good or evil when you’re protecting the ones you love.
Neji taught me… that if you leave your pride behind you can change your destiny.
Rock Lee taught me… that hard work beats talent.
Kakashi taught me… that teamwork and friendship stand above the rules.
Hinata taught me… that love is worth fighting for.
Sai taught me… that a life without feeling isn’t worthwhile.
Sakura taught me… that weakness is a choice, not an excuse.
Gaara taught me… how painful loneliness can be and how love can change someone.
Nagato taught me… that revenge and hatred only lead to more revenge and hatred.
Asuma taught me… how important it is to take care of the next generation.
Shikamaru taught me… that sometimes you even have to do the things that bother you the most.
Might Gai taught me… that it doesn’t matter what other people say about you.
Minato and kushina taught me… that parent’s love beat all else.
Sarutobi taught me… that problems should be solved with kindness rather than with violence.
Sasuke taught me… that you should not only dream about things but actually achieve them.
Itachi taught me that… sometimes you have to make sacrifices for the greater good.
Tsunade taught me… to never abandon the living for the dead.
Jiraya taught me… that you must never give up your faith in humanity and your hope of peace.
Obito taught me… that it is never too late to revert to the right way.
Madara taught me… that peace is no peace without freedom.
And Naruto… well, we all know that Naruto taught us a lot. but the most important thing is: no matter what happens in your life…

NEVER GIVE UP !!! BELIEVE IT!?

Jadi ingat berbagai peristiwa yg terjadi di sekitar kita. Setiap berita selalu ada 2 tanggapan, ada yg menanggapi positif dan ada yg menanggapi negatif. Parahnya bahkan sampai terjadi dikotomi dan labelisasi. Padahal itulah Rwa Bhinneda, selalu ada sisi positif dan sekaligus juga sisi negatif dari apa pun. Sekarang tergantung kita mau melihat sisi mananya, mau lihat sisi negatif sehingga perasaan dan pikiran kita jadi tercemar, atau melihat dari sisi positif sehingga kita bisa bahagia dan worry-free.

Sama spt Naruto, banyak yg tidak mau menonton atau mengijinkan anak2nya menonton Naruto. Kalau saya sih anak2 saya ajak nonton (sepanjang masih sesuai rating-nya) tentunya sambil didampingi untuk menjelaskan saat ada adegan yg tidak normal, dan setelah selesai menonton saya ajak diskusi untuk menggali pelajaran baik apa saja yg bisa kita ambil dari film tadi.

Pilihan hidup: selalu berpikir positif  🙂

Dosen Pintar nda Bisa Ngajar?

Tag

, , , , ,

Sejak jaman sekolah SMP, saya sudah mulai memperhatikan cara guru mengajar. Dan saat itu sudah timbul pertanyaan di benak saya, kenapa ada guru yg pintar mengajar dan ada juga guru yg nda bisa mengajar. Ternyata sampai sekarang pun setelah banyak baca2 buku tentang kecerdasan (intelligence) masih juga belum paham benar alasannya.

Ada rekan dosen yang saya sangat yakin beliau sangat pintar dalam memahami formulasi matematis tapi ternyata saat ngobrol dengan mahasiswa mereka pada nda ngerti beliau jelasin apa. Tapi ada juga rekan dosen yang saya anggap tidak superior dalam hal berpikir logis, ternyata mahasiswa pada berebut pingin masuk ke kelasnya karena katanya ngajarnya enak dan mudah diikuti.

Secara teori, ada 9 jenis kecerdasan (Wikipedia):

  1. Kecerdasan musikal, terkait dengan sensitivitas pada suara, ritme, nada, dan musik
  2. Kecerdasan visual, terkait dengan melakukan visualisasi atas apa yg pernah dilihat
  3. Kecerdasan verbal, terkait dengan penyusunan kata dan bahasa
  4. Kecerdasan logis, terkait dengan kemampuan berlogika, berabstraksi, dan mengambil kesimpulan
  5. Kecerdasan motorik, terkait dengan kemampuan mengontrol gerakan tubuh
  6. Kecerdasan sosial, terkait dengan kemampuan berinteraksi dan berempati dengan orang lain
  7. Kecerdasan pribadi, terkait dengan kemampuan mengeksplorasi dan menilai diri sendiri
  8. Kecerdasaran alam, terkait dengan kemampuan berinteraksi dengan alam flora dan fauna
  9. Kecerdasan eksistensi atau spiritual

Kalau melihat pembagian kecerdasan di atas, kecerdasan verbal dan kecerdasan logis memang berbeda. Jadi mungkin ini yg menyebabkan dosen pintar (cerdas logis) belum tentu pintar ngajar (yg membutuhkan cerdas verbal).

Tapi jika kecerdasan adalah bakat (baca “Antara Kompetensi Hobby dan Bakat“), kenapa ada dosen yg dulu saat mahasiswa sangat menonjol kecerdasan logisnya tapi tidak memiliki kecerdasan verbal (susah ngomong), sekarang setelah beberapa tahun menjadi dosen menujukkan kecerdasan verbal yg luar biasa (dosen fave karena pinter ngajar) tapi saat diskusi logika dan formula matematika terasa lola (loading lama) ya?

Sudah Registrasi Kartu PraBayar?

Tag

, ,

Menyambung tulisan sebelumnya tentang Registrasi Kartu praBayar, kali ini kita diskusikan tentang cara mengecek hasil registrasi kartu SIM kita.

Cara untuk mengecek apakah kartu SIM kita telah terdaftar dan terhubung dengan NIK (Nomor Induk Kependudukan) tergantung pada operator yg kita gunakan. Untuk menanyakan apakah nomr hape kita sudah terdaftar di server Dukcapil, kita bisa menggunakan kode USSD (Unstructured Supplementary Service Data), layanan standar GSM untuk “bertanya” ke server operator:

  • Bagi yang menggunakan nomor XL, gunakan USSD *123*4444# (ditutup dg menekan tombol OK atau Dial)
  • Bagi yang menggunakan nomor Indosat, gunakan USSD *185*5# (ditutup dg menekan tombol OK atau Dial)
  • Bagi yang menggunakan nomor Telkomsel, gunakan USSD *444# (ditutup dg menekan tombol OK atau Dial)

Penggunaan USSD tidak berlaku bagi pengguna nomor 3 (Three). Bagi yang menggunakan nomor 3 (Three), gunakan SMS berisi “STATUS” dan dikirimkan ke nomor 4444.

Satu hal yg menjadi perhatian saya: bagaimana jika ada orang yg tau NIK di KTP dan KK kita lalu menggunakannya untuk mendaftarkan nomor hapenya?

Hal ini cukup berbahaya, karena kalau nomor hape orang tersebut digunakan untuk kejahatan, maka kita yang akan berurusan dengan pihak berwenang.

Dari kode USSD di atas, kita bisa tau NIK mana yg digunakan untuk mendaftarkan nomor hape kita, tapi kita tidak bisa bertanya kebalikannya, pada NIK kita sudah terdaftar nomor hape apa saja?

Jelasnya, dengan USSD di atas:
input: nomor hape dan NIK
output: status sudah teregistrasi atau belum
Tapi USSD di atas tidak bisa digunakan untuk:
input: NIK
output: daftar nomor hape yang terdaftar pada NIK tsb

Untuk pelanggan Telkomsel, ternyata kita bisa mengecek daftar nomor hape untuk NIK kita dengan menggunakan kode USSD *444#. Nanti akan diminta untuk memasukkan NIK yg ingin dicek, tapi pastikan anda menggunakan nomor hape yang telah terdaftar untuk NIK tersebut.

Untuk pelanggan yg lain saya belum tau, jika ada teman2 yg tau silahkan di-share di comment untuk berbagi informasi tersebut. Thanks

tambahan:

  1. masalah baru: bagaimana cara mengecek apakah NIK kita dipakai oleh nomor operator lain? karena kita hanya bisa mengecek untuk operator kita sendiri
  2. Dapat poster ini yg menjelaskan cara cek di operator lainnya nomor hape apa saja yg terdaftar pada NIK milik kita. Tapi tetap nomor yg ngecek harus yg terdaftar dan hanya berlaku di operator tsb (belum bisa menjawab masalah di nomor 1)

Cek NIK untuk cari nomor hape

Memilih Judul Skripsi yang Keren

Tag

, , ,

Hari ini ada mahasiswa yg bertanya, judul skripsi apa yg tepat untuk penelitian yg akan dilakukannya?

Sebelumnya memang ybs sudah berdiskusi beberapa kali untuk topik penelitian yg saya berikan. Tapi sepertinya ybs masih belum bisa menuangkan topik yg saya jelaskan panjang kali lebar dalam kata2nya sendiri. Sampai akhirnya ybs bertanya: “judulnya apa ya pak?”  🙂

Sebelum memilih judul skripsi, tentunya harus bisa menentukan topik penelitian kita dengan cara menjawab 3 pertanyaan berikut:

  1. Problem apa yg ingin diangkat dalam penelitian ini?
  2. Solusi apa yg ingin ditawarkan untuk menjawab problem tersebut?
  3. Bagaimana cara anda merealisasikan solusi tersebut?

catatan: 3 pertanyaan tsb sudah pernah saya tulis sebelumnya di:
https://nyomankarna.id/2016/12/09/cara-menulis-paper-yang-baik-dan-benar-bagian-1/
https://nyomankarna.id/2016/12/10/cara-menulis-paper-yang-baik-dan-benar-bagian-2/
https://nyomankarna.id/2016/12/23/cara-menulis-paper-yang-baik-dan-benar-bagian-3/

Sekarang, kembali ke pertanyaan: “judul apa yg sesuai untuk penelitian saya?”

Biasanya judul penelitian itu, mungkin biar terbaca keren dan nendang, diawali dengan beberapa kata sihir: “implementasi“, “analisis“, dan “evaluasi“. Tulisan kali ini hanya untuk membahas perbedaan dari ketiga kata sihir tersebut.


Implementasi, menurut KBBI:

im.ple.men.ta.si /implêmèntasi/

  1. n pelaksanaan; penerapan
  2. n Kom pengembangan versi kerja sistem dari desain yang diberikan

Analisis (bukan analisa), menurut KBBI:

ana.li.sis

  1. n penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab musabab, duduk perkaranya, dan sebagainya)
  2. n Man penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan
  3. n Kim penyelidikan kimia dengan menguraikan sesuatu untuk mengetahui zat bagiannya dan sebagainya
  4. n Kim penjabaran sesudah dikaji sebaik-baiknya
  5. n Kim pemecahan persoalan yang dimulai dengan dugaan akan kebenarannya

Evaluasi, menurut KBBI:

eva.lu.a.si /èvaluasi/

  1. n penilaian: hasil — itu hingga saat ini belum diperoleh
  2. n Komp proses untuk menemukan nilai layanan informasi atau produk sesuai dengan kebutuhan konsumen atau pengguna
  3. n pengumpulan dan pengamatan dari berbagai macam bukti untuk mengukur dampak dan efektivitas dari suatu objek, program, atau proses berkaitan dengan spesifikasi dan persyaratan pengguna yang telah ditetapkan sebelumnya

 

Sepertinya kalau baca penjelasan dari ketiga kata sihir tersebut, “implementasi” sudah jelas artinya karena membuat sesuatu yg nyata. Tapi antara “analisis” dan “evaluasi” masih belum jelas garis yang membatasinya. Akhirnya setelah browsing2, didapat website ini:

What Is The Difference Between “Evaluation” and “Analysis” of a Concept?

Analisis outputnya adalah hasil pengukuran yg objektif karena suatu konsep dinilai bagus atau tidaknya berdasarkan angka2 (kuantitatif).

Evaluasi outputnya adalah hasil pengukuran yg subjektif karena suatu konsep dinilai bagus atau tidaknya berdasarkan opini (kualitatif).

Mudah2an hasil browsing ini benar, tapi bedanya terlihat jelas sih dan kalau dibandingkan kembali dg KBBI, jadi bisa dipahami definisi di KBBI-nya 😀

Setelah dapat kata sihir-nya, selanjutnya masuk ke bagian “apa yg akan diimplementasi / dianalisa / dievaluasi?” Tapi next time ya

Teka-teki Anak-anak untuk Uji Logika

Tag

, , ,

Kemarin malam sambil menemani anak2 bobo setelah sembahyang, untuk memancing anak2 mau bercerita tentang kejadian2 saat di sekolah, saya coba menghangatkan suasana dengan sedikit joke:

Papa: (dengan raut wajah serius dan sedikit tegang) Angga, Papa mau ngomong serius sama Angga!
Angga: (jadi ikut2an serius) iya Pa? kenapa Pa?
Papa: Serius
Angga: iya Pa, mau ngomong apa?
Papa: iya itu, Papa mau ngomong “S-E-R-I-U-S”
dan semuanya pun tertawa ngakak  😀

Setelah ngobrol tentang sekolah, Angga tiba2 berkata:

Angga: (dengan tampang sedih) Pa, Angga punya berita buruk dan berita baik. Papa mau denger yg mana dulu?
Papa: yang buruk dulu aja
Angga: berita buruknya, Angga lupa
Papa: lupa apa?
Angga: iya itu, Angga lupa apa berita buruknya (sambil nyengir)
Papa: (sambil tersenyum) trus berita baiknya apa?
Angga: berita baiknya, tidak ada berita buruk
dan semuanya tertawa kembali  😀

Setelah itu saya jadi teringat beberapa teka-teki masa anak2 jaman dulu yg sebenarnya juga menguji kemampuan logika dan matematika. Ini beberapa teka-teki anak2 jaman dulu yg hampir semua bisa dijawab oleh anak2:

  1. Q: Jika mama membutuhkan 1 menit untuk merebus 1 telor, berapa menit waktu yg dibutuhkan mama untuk merebus 3 telor?
    A: Kebanyakan anak2 akan menjawab 3 menit, tapi jawabannya adalah 1 menit juga karena 3 telor bisa direbus bersamaan
  2. Q: Seorang petani mengajak musang, ayam, dan beras untuk menyebrang sungai. Sayangnya perahu yg digunakan hanya bisa mengangkut 2 penumpang yg salah satunya adalah petani. Jika musang ditinggal berdua dgn ayam, maka musang akan memakan ayam. Jika ayam ditinggal berdua dgn beras, maka ayam akan memakan beras. Bagaimana urutan yg harus diseberangkan petani agar musang, ayam, dan beras sampai di seberang dgn selamat?
    A: pertama2 petani mengajak ayam menyeberang (musang tidak mau memakan beras). Lalu petani kembali dan menjemput musang untuk diseberangkan, tapi saat kembali untuk menjemput beras, petani mengajak ayam kembali ke lokasi awal. Lalu petani membawa beras ke seberang dan kembali lagi untuk menjemput ayam.
  3. Q: Ada sebuah bak mandi kosong yg volumenya sangat besar. Bak mandi ingin diisi dengan 4 liter air dengan menggunakan gayung A = 3 liter dan gayung B = 5 liter dengan sumber air dari keran. Bagaimana caranya mengisi 4 liter air dengan gayung A = 3 liter dan gayung B = 5 liter?
    A: pertama2 gayung A yg berisi 3 liter dituang ke bak mandi (sekarang bak mandi berisi 3 liter). Lalu gayung A yg berisi 3 liter dituang ke gayung B sehingga gayung B berisi 3 liter. Selanjutnya gayung A yg telah diisi penuh kembali (3 liter) dituang ke gayung B sampai gayung B penuh, dan karena gayung B sebelumnya telah berisi 2 liter maka hanya 2 liter dari gayung A yg bisa dituang ke gayung B, ini berarti gayung A akan tersisa 1 liter (3 liter dikurangi 2 liter). Terakhir isi gayung A yg 1 liter tersebut dituang ke bak mandi dituang ke bak mandi. Sekarang bak mandi telah berisi 4 liter air (3 liter + 1 liter). Bingung? Berikut gambarannya:
    A  B  bak
    3  0  0
    0  0  3
    3  0  3
    0  3  3
    3  3  3
    1  5  3
    0  5  4
  4. Q: Ada kolam berukuran 10m x 10m dan ditengahnya ada 1 daun teratai. Daun teratai berkembang dalam 1 hari menjadi 2 kali lipat. Jadi jika hari ini ada 4 daun teratai maka besoknya ada 8 daun teratai. Jika kolam menjadi penuh dengan daun teratai dalam 50 hari, maka pada hari keberapa kolam tersebut setengah penuh dengan daun teratai?
    A: karena formula perkembangannya adalah 2 kali lipat, berarti kolam setengah penuh dalam 49 hari (1 hari sebelum penuh)

Silahkan dicoba ditanyakan kepada anak2 🙂

Konten porno di WhatsApp? Di Google lebih parah kok

Tag

, , , , , , ,

Sudah cukup lama pakai WhatsApp, semenjak GoogleTalk dilikuidasi dan diganti jadi Hangout, langsung beralih ke WhatsApp. Selain WhatsApp saya juga pakai Telegram, sempat pakai BBM dan Line tapi cuma sebulan trus saya hapus. Alasannya karena BBM terasa berat berjalan di hape dg RAM 1GB dan juga karena hampir nda ada rekan kerja atau mahasiswa yg pakai BBM. Kalau Line? Bosen denger bunyi notifikasi yg isinya cuma berita2 gaje  🙂

Beberapa hari ini pada ngeributin adanya konten porno di WhatsApp. Konten porno yg dilaporkan tsb disediakan dalam format GIF namun tidak disediakan langsung oleh WhatsApp, melainkan oleh Tenor. Hal ini terlihat saat kita klik tombol GIF maka akan muncul tulisan “Search GIFs via Tenor”.

Kenapa WhatsApp menggunakan jasa pihak ketiga untuk menyediakan konten emoji GIF? Banyak alasannya sih, bisa karena alasan bisnis, efisiensi, atau bisa juga karena hanya malas 🙂 Iya, bikin GIF yg bagus itu nda gampang lho, harus sering nonton film agar bisa mencari ekspresi yg sesuai untuk suatu emosi tertentu.

search GIFs via Tenor

Kemarin sempat akses ke Tenor diblok, sehingga saat klik tombol GIF yg muncul “Check your phone’s Internet Connection and try again” karena akses ke Tenor ditutup oleh ISP sesuai instruksi pemerintah. Namun saat ini emoji GIF dari Tenor sudah bisa digunakan lagi karena memang sudah diperbaiki.

Tapi apakah memang benar sudah diperbaiki?

Kalau dicoba, kita sudah tidak bisa lagi search dgn keyword “sex” atau “lesbian”, karena hasilnya adalah “Search return no result”. Namun kalau kita hanya mengetikkan “se” atau “les” beberapa emoji GIF yg sebelumnya diblock ternyata masih muncul.

Kesimpulannya?
Sepertinya Tenor mengaktifkan keyword filtering, jadi jika ada yg menuliskan keyword “sex” dan “lesbian” maka Tenor akan langsung memblokirnya dan memberikan hasil search yg kosong. Tapi jika yg diinputkan adalah “se” atau “les” maka Tenor tidak menganggapnya sbg kata terlarang sehingga beberapa gambar GIF masih tetap muncul.

Teknologi keyword filtering ini sering disebut dengan wordfilter yang hanya membatasi kata demi kata tanpa peduli dengan konteksnya (topik pembicaraan). Sebagai contoh, saat dulu masih suka ngulik2 Squid sbg proxy server, kita bisa membatasi akses user berdasarkan kata terlarang (bad word). Misalnya kita masukkan kata “sex” sebagai kata terlarang, maka jika user browsing ke suatu situs yg ada frase “sex”-nya maka akses ke situs tsb akan diblokir. Padahal mungkin saja frase “sex” tsb adalah untuk mengirimkan form yg menanyakan jenis kelamin kita (male atau female).

Teknik wordfiler yg lebih canggih adalah regex atau regular expression, dimana pembatasan akses tidak hanya berdasarkan kata terlarang, tapi juga melihat konteks atau isi dari informasi lengkapnya. Misalnya suatu situs membahas tentang sextan, suatu alat navigasi untuk mengukur jarak antara 2 benda. Kata “sextan” mengandung frase “sex” yg jika menggunakan wordfilter sederhana maka akan langsung diblok, namun dgn menggunakan regex maka akses ke situs tsb akan dibuka karena sextan tidak terkait dengan “sex”.

Kembali ke WhatsApp.
Bagaimana caranya agar emoji GIF yg tidak pantas tadi bisa ditutup sepenuhnya?
Jawabannya cuma bisa dilakukan oleh Tenor. Tenor harus mau mengkategorikan dan merating emoji-nya. Spt misalnya mana yg konten dewasa dan mana yg konten remaja, dan mana yg konten semua umur.
Dengan adanya kategori dan rating tersebut, WhatsApp atau pengguna jasa Tenor bisa membatasi akses ke emoji tertentu.

Apa alternatif dari WhatsApp agar terhindar dari emoji GIF yg tidak pantas tsb?

Telegram?
sama saja, kita bisa mencari emoji GIF di Telegram yg tidak pantas untuk dikonsumsi anak2.

Kemarin ada yg mengatakan “ngapain ngeributin porn GIF di WhatsApp? di Google lebih parah tuh”. Seharusnya kita tidak membandingkan kasus WhatsApp dengan Google. WhatsApp melalui Tenor menyediakan konten-nya langsung, sementara Google hanya mengindex (menyimpan metadata) gambar2 yg disimpan di tempat lain. Jadi menurut saya kita nda bisa menyalahkan Google yg menyimpan gambar porno, karena Google tidak menyimpannya. Tapi kita bisa menggunakan fitur “Send Feedback” yg disediakan Google untuk melaporkan gambar2 yg tidak pantas. Selain itu, kita bisa memanfaatkan layanan DNS Nawala untuk memblokir akses ke situs2 yg tidak pantas. Tetap muncul di Google, tapi begitu linknya diklik akan diblokir oleh Nawala.

google send feedback

Internet sehat dan bersih  🙂

Amankah data nomor KTP dan KK saya saat proses registrasi kartu SIM?

Tag

, , ,

registrasi20kartu20prabayar
(gambar diambil dari siaran pers Kominfo: NO. 209/HM/KOMINFO/10/2017)

Beberapa hari ini banyak yg meributkan tentang keamanan data (dan perlunya melakukan) registrasi kartu SIM. Saya coba bahas dari aspek keamanan aja, karena kebetulan saya meneliti di bidang ini 🙂

Sebelum membahas registrasinya, kita coba bahas tentang kartu SIM ini terlebih dahulu. Kartu SIM (Subscriber Identity Module) adalah kartu akses agar kita sebagai pelanggan bisa terhubung dengan jaringan suatu operator. Jadi bisa dikatakan kartu SIM adalah kunci untuk bisa bergabung dengan jaringan operator, entah Telkomsel, XL, Indosat, atau operator lainnya. Karena menjadi kunci akses, maka kartu SIM harus menyimpan informasi penting seperti:

  • nomor khusus dan unik:
    • serial number ICCID (integrated circuit card identifier) yg bersifat unik dan diberikan oleh pabrik pembuat kartu tersebut (bukan oleh operator)
    • nomor telpon IMSI (international mobile subscriber identity) yg diberikan oleh operator khusus hanya untuk 1 kartu tersebut,
  • informasi keamanan (autentikasi dan enkripsi),
  • dua buah password: PIN dan PUK,

dan karena sisa memory di kartu SIM masih cukup banyak (biasanya 64 kB), maka sisanya bisa digunakan untuk:

  • menyimpan konten SMS,
  • menyimpan kontak (phone-book), dan
  • beberapa informasi tambahan khusus yg didesain oleh masing2 operator (beda operator beda informasi tambahan).

Karena SIM berfungsi menyimpan informasi, maka kartu SIM adalah smart card yg bisa disetarakan dengan flash disk yg sering kita gunakan untuk menyimpan file.

Sekarang mari kita bahas registrasi kartu SIM. Kalau dilihat dari skenario registrasi yang ada di website Kominfo, maka urutannya spt ini:

  1. kita mengirimkan SMS ke 4444 yg berisi nomor KTP dan nomor KK (tidak perlu mengirimkan informasi lain selain nomor KTP dan KK)
  2. server 4444 di dalam jaringan operator anda akan menerima SMS ini dan mengirimkan isi SMS ke server Dukcapil (Kependudukan dan Catatan Sipil) lewat Internet
  3. jika nomor KTP sesuai dengan nomor KK maka server dukcapil akan mengirimkan balasan semacam “Okay” ke server 4444, tapi jika kedua nomor  teb tidak sesuai maka server dukcapil akan mengirimkan balasan semacam “Tidak okay”
  4. pesan “Okay” atau “Tidak okay” ini akan diteruskan ke kita sebagai pelanggan

registrasi kartu sim prabayar

Sekarang yuk kita analisa skenario tsb. Kita coba analisa dari kekawatiran yg berkembang di masyarakat.

Ada beberapa kekawatiran di masyarakat terkait registrasi kartu SIM ini:

  • Gimana kalau data KTP dan KK kita dicuri?
    analisa: okay, kita analisa berdasarkan sudut pandang orang yg ingin mencuri data nomor KTP dan KK. Jika dilihat tahapan registrasi, data nomor KTP dan KK akan melewati server 4444 dan server dukcapil melalui Internet.

    1. Jaringan operator anda bisa kita asumsikan aman, karena jaringan ini private (dikendalikan penuh oleh operator ybs)
    2. Bagaimana dengan server 4444? Bisa kita asumsikan aman juga karena server tsb juga masih ada di jaringan private operator
    3. Bagaimana dengan server Dukcapil? Seluruh data nomor KTP dan KK sudah ada di sini, jadi kalau seseorang ingin mencuri data nomor KTP dan KK ya mestinya diarahkan ke sini. Jadi mau ada acara registrasi kartu SIM atau nda ya nda ada hubungannya dengan kekawatiran data nomor KTP dan KK akan dicuri dari server Dukcapil. Berarti nda ada kaitannya dg registrasi kartu SIM, lha wong datanya udah ada di server Dukcapil tsb kok
    4. Bagaimana dengan Internet? Koneksi antara server 4444 dg server Dukcapil sudah pasti aman, karena hanya server 4444 yg boleh “bertanya” pada server Dukcapil dan ini sudah pasti diamankan melalui berbagai mekanisme:
      1. server 4444 harus mengirimkan credential tertentu ke server Dukcapil untuk bisa bertanya. Credential disini bisa mencakup username, password, dan informasi keamanan lainnya (spt misalnya session key, random ID, kunci enkripsi, dll)
      2. alamat IP dari server 4444 dikunci di server Dukcapil, sehingga hanya server2 tertentu saja yg bisa “bertanya” ke server Dukcapil
      3. alamat MAC dari server 4444 dikunci di server Dukcapil, sehingga hanya server2 tertentu saja yg bisa “bertanya” ke server Dukcapil (cat: mekanisme ini cukup sulit diterapkan, karena alamat MAC biasanya akan hilang kalau melewati router)
      4. tunneling spt VPN, sehingga hanya server2 tertentu yg bisa “bertanya” ke server Dukcapil
  • Kesimpulan: data nomor KTP dan KK dapat diasumsikan aman selama proses registrasi kartu SIM

  • Gimana kalau data KTP dan KK kita dipakai untuk membuat KTP palsu?

    analisa: okay, kita analisa berdasarkan pihak yg ingin membuat KTP palsu. Siapa yg ingin membuat KTP palsu? Pemerintah? Lha data nomor KTP dan KK kan sudah tersedia semuanya di server Dukcapil. Jadi mau ada acara registrasi kartu SIM atau nda ya nda ada hubungannya dengan kekawatiran data nomor KTP dan KK akan dicuri dari server Dukcapil

  • Kesimpulan: proses registrasi kartu SIM ini hanya menambahkan nomor hape kita ke data Dukcapil, yang tadinya sudah ada nomor KTP dan nomor KK, sekarang ditambahkan nomor hape

Jadi menurut saya kekawatiran masyarakat terhadap acara registrasi kartu SIM ini belum cukup kuat. Justru dengan adanya nomor hape di data Dukcapil akan lebih banyak manfaatnya, spt misalnya:

  • Tidak akan ada lagi penipu berbasis hape, spt minta pulsa, keluarga ada di rumah sakit dan perlu biaya tambahan dg cepat, menang undian, minta transfer, dll
  • Sosial media akan lebih tenang dan kondusif untuk diskusi dan berbagi karena berkurangnya informasi yang salah (hoax, framing, disinformasi, dll)

Memang ada beberapa hal yg perlu diperhatikan:

  • Karena 1 nomor KTP bisa menyimpan sampai 3 nomor hape, sebaiknya kuota tersebut dihabiskan agar tidak ada orang lain yg menggunakan nomor KTP kita
  • Agar diingat juga, registrasi ini berlaku khusus untuk kartu prabayar, jadi yg pasca bayar belum perlu kuatir
  • Keamanan selama proses data harus diaudit untuk memberikan rasa aman dan nyaman pada masyarakat

Silahkan jika ada yg ingin ditambahkan atau diklarifikasi  🙂

Bagaimana cara mendaftar di SINTA?

Tag

, , , , ,

sinta_logo

Beberapa hari ini teman2 dosen pada meributkan SINTA (Science and Technology Index), suatu portal indexing untuk karya tulis ilmiah. Sebenarnya portal ini sudah dirilis sejak lama, tapi karena ada kendala di sinkronisasi maka banyak dosen yg akhirnya tidak begitu mempedulikan (padahal infonya pengurusan JFA akan mengacu pada portal SINTA ini).

Jadi, apa itu SINTA?
SINTA adalah portal indexing dari indexing 🙂 karena SINTA merekap hasil indexing yg ada di Google Scholar dan Elsevier Scopus.

Google Scholar mengindex berbagai karya tulis yang memenuhi aturan yg mereka miliki (spt misalnya metadata, aksesibilitas dan sebaran dokumennya). Google Scholar tidak peduli apakah karya tulis tersebut telah melalui proses review atau tidak, sepanjang output dokumennya memenuhi kriteria maka dokumen tsb akan diindex. Hal ini berbeda dengan Elsevier Scopus yg selain memiliki persyaratan atas output dokumennya (spt Google Scholar) juga mensyaratkan proses penerbitan dokumen yg juga harus memenuhi standar mereka. Jadi Google Scholar hanya peduli dengan output dokumen sementara Elsevier Scopus peduli dengan output dokumen dan juga prosesnya.

Sekarang, bagaimana caranya agar kita sebagai author bisa terdaftar di Sinta?

Sebelum bisa terdaftar di Sinta, kita harus terdaftar terlebih dahulu di Google Scholar dan juga Elsevier Scopus. Untuk mendaftar di Google Scholar anda harus login dengan akun Google terlebih dahulu dan selanjutnya bisa berkunjung ke sini dan untuk mendaftar di Elsevier Scopus bisa langsung berkunjung ke sini.

Tampilan untuk registrasi di Google Scholar:
register scholar

Tampilan untuk registrasi di Elsevier Scopus:
register scopus

Hasil dari registrasi di Google Scholar adalah Google Scholar ID lengkap dengan URL sbg homepage-nya. Contoh berikut adalah Google Scholar saya:
https://scholar.google.com/citations?user=-cr8aHgAAAAJ&hl=en
yang berarti Google Scholar ID saya adalah: -cr8aHgAAAAJ

Hasil dari registrasi di Elsevier Scopus adalah Scopus ID lengkap dengan URL sbg homepage-nya. Contoh berikut adalah Scopus saya:
https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=56523130400
yang berarti Scopus ID saya adalah 56523130400

Dengan berbekal Google Scholar URL dan Scopus ID, sekarang kita bisa daftar ke SINTA. SINTA bisa diakses dengan dua alamat yg sebenarnya hanya alias saja:
http://sinta.ristekdikti.go.id/ atau
http://sinta2.ristekdikti.go.id/

Pada portal SINTA klik menu “Registrasi” dan isi data2 yg dibutuhkan:
register sinta

Lalu klik “Register” dan tunggu verifikasi dari tim admin SINTA. Saat akun anda sudah terverifikasi maka anda akan mendapatkan email notifikasi dari admin SINTA.

Selamat mencoba!

Antara meminta mahasiswa mandiri dan segudang aturan

Tag

, , ,

rule #1 obey your master

Beberapa hari lalu di sebuah grup chat dosen (iya, dosen juga doyan ngerumpi lho, apalagi ngerumpiin mahasiswa 🙂 ), ada dosen yg mengeluhkan mahasiswa sekarang yang dianggapnya tidak mandiri. Dia membandingkannya dengan jaman dia menjadi mahasiswa, kalau dulu mahasiswa yg aktif mencari informasi ke berbagai sumber tapi sekarang mahasiswa maunya langsung nanya ke dosen. Misalnya untuk nanya “besok hari Senin harus pakai pakaian apa buat ujian?” mahasiswa langsung nanya ke dosen wali, padahal di aturan yg dikeluarkan oleh kampus sudah jelas yaitu pakai seragam. Tapi mahasiswa tetap berargumen “saya belum punya seragam karena selama ini tidak ada kuliah di hari Senin dan saat dicari ke koperasi katanya sudah habis stoknya”  🙂

Awalnya saya juga menyetujui pernyataan rekan dosen tersebut, karena saya sendiri sebagai dosen wali cukup banyak waktu yg dipakai untuk melayani pertanyaan dari mahasiswa wali. Pertanyaannya sangat beragam, mulai dari aturan berpakaian yg berlaku di kampus, aturan studi akademik di kampus, aturan perkuliahan di kampus, aturan kemahasiswaan di kampus, aturan beasiswa di kampus, sampai tanya2 tempat nongkrong yg asyik di Bandung  🙂

Pikiran saya baru tersentak ketika rekan dosen yg sama mengeluhkan mahasiswanya yg tidak disiplin, spt kehadiran di kelas yg terlambat, tidak mengucapkan salam pada dosen yg berpapasan, sampai pakaian yg tidak seragam.

Premise 1: Mahasiswa diminta untuk mandiri
Premise 2: Mahasiswa kuatir dengan aturan kampus yang sangat banyak
Premise 3: Mahasiswa tidak disiplin

Kalau dilihat dari 3 premise tsb, terlihat jika mahasiswa sebenarnya banyak bertanya tentang aturan karena takut tidak tau aturan mana yg dilanggar. Sebaliknya aturan kampus yang sangat banyak justru membuat mahasiswa menjadi tidak mandiri karena mereka diperlakukan sebagai objek yg patut dicurigai akan melanggar aturan dgn berbagai alasan  😀

kata kunci untuk teks kali ini adalah: fleksibel vs. rigid

Fleksibel berarti kita membuat aturan yang cukup memberi garis batas antara “boleh” dan “tidak boleh” namun masih banyak ruang bagi mahasiswa berkreasi dan berinovasi. Ambil contoh seragam, dari dulu memang kampus Telkom terkenal dengan seragamnya (dulu putih biru spt seragam SMP dan sekarang putih merah tua spt seragam…..). Jika aturannya menyebutkan “hari Senin wajib menggunakan seragam dengan atribut bebas rapi” maka mahasiswa bisa menambah dgn scarf atau sepatu warna untuk tampil modis. Contoh lainnya adalah syarat kehadiran di kelas minimal 75%, kurang dari angka tsb berarti tidak boleh mengikuti ujian akhir semester (UAS). Aturan ini memberikan persepsi pada mahasiswa bahwa mereka boleh “membolos” sebanyak 3x pertemuan. Andaikan aturannya dibuat menjadi “kehadiran di kelas disesuaikan dengan kemampuan setiap mahasiswa yang diukur oleh dosen” maka dosen bisa memberikan pre-test di awal kelas, jika memang mahasiswa-nya sudah menguasai materi, mereka bisa dipersilahkan untuk fokus ke mata kuliah lainnya.

Kita berharap mahasiswa bisa berkreasi dan berinovasi agar bisa mandiri dalam belajar dan melakukan penelitian, tapi di sisi lain kita membuat aturan yg memperlakukan mahasiswa sebagai robot dan membuat mahasiswa sulit untuk bergerak bebas  🙂

Jadi teringat dengan salah satu petuah dari senior yg saya hormati:
Jangan membuat aturan yg kita tidak bisa menjadi polisinya

Selamat belajar dan meneliti, semoga dengan aturan yg sedemikian banyak tetap tidak menghalangi semangat teman2 mahasiswa untuk berkreasi dan berinovasi.