Mengajar Mahasiswa Singapore di Korea

Tag

, ,

Bulan Juli 2019 mendapat kesempatan mengajar di Hanyang University, Korea, dalam program Summer School-nya. Namun, meskipun ngajarnya di Korea, ternyata hanya ada 1 mahasiswi yg asli Korea, itu pun kuliahnya di Singapore. Jadi lokasi ngajar di Korea tapi seperti mengajar di Singapore  🙂

Ada banyak inovasi yang saya gunakan saat mengajar di Summer School ini, salah satunya adalah menggunakan aplikasi online bernama Socrative. Aplikasi ini membantu untuk mengevaluasi pemahaman mahasiswa dalam bentuk quiz secara online, dan saya gunakan di setiap pertemuan untuk “memaksa” mahasiswa selalu fokus mendengarkan karena di akhir kelas akan ada quiz yg berbobot 40% dari total nilai akhir.

Banyak hal berkesan yang diperoleh selama mengajar 1 bulan di program Summer School tersebut. Dengan mengajar 2 kelas di program tersebut, C++ Programming dan Microprocessor and IoT, meskipun mayoritas mahasiswanya berasal dari kampus yg sama NUS dan NTU, tapi ternyata karakternya lumayan berbeda.

Pada kelas C++ Programming, mahasiswanya ternyata sebagian besar bukan berasal dari engineering, sehingga cukup menantang untuk diskusi topik ini dengan mahasiswa kimia dan farmasi. Sementara ada beberapa yg memang engineering. Sehingga sangat terasa gap-nya, saat mengajar basic sedikit kelamaan, yg engineering protes, tapi saat mulai berlatih dengan membangun database online, yg non-engineering yg protes  😀

Sementara untuk kelas Microprocessor and IoT, semua peserta berasal dari engineering, sehingga diskusi berjalan dengan lancar, bahkan terkadang terlalu lancar 😀

 

Dan ternyata memang terlihat dari hasil feedback mahasiwa, untuk kelas Microprocessor and IoT, sebagian besar merasa sangat puas dengan materi ajarnya, namun sebaliknya untuk kelas C++ Programming, sebagian besar merasa kecewa dengan materi ajarnya 😀

Next mudah2an saat mengajar di kelas berikutnya saya bisa lebih mampu menjembatani gap tersebut.

 

Ambil yang Kau Butuhkan, Habiskan yang Kau Ambil

Tag

, ,

Sejak kecil saya sudah nda punya Bapak, jadi otomatis Ibu yang membesarkan saya. Setiap malam, kami dibiasakan untuk makan malam bersama, duduk di meja dan menyantap apa pun makanan yang disajikan, tidak boleh mengeluh. Selain itu, setiap orang di keluarga, harus mengambil sendiri nasi dari tempatnya sesuai porsinya masing-masing, dan wajib menghabiskan sejumlah yang diambil tersebut. Kalau ada yg belum habis, maka seluruh anggota keluarga harus menunggu sampai semua piring makan bersih.

Setelah selesai santap malam, seluruh peralatan makan dibereskan. Ada yang bertugas membersihkan peralatan makan, ada yg bertugas menyimpan lauk yang belum habis di lemari, dan ada yg bertugas membersihkan meja makan. Kemudian ritual dilanjutkan dengan belajar bersama, tetap di meja makan (soalnya cuma ada 1 meja di rumah). Meskipun apa yg dipelajari berbeda2, tapi tetap belajarnya di 1 meja. Dulu ritual ini bisa terjaga, karena belum ada Internet, belum ada gadget, dan acara TV juga membosankan.

Setelah beberapa puluh tahun, saya baru menyadari kalau ada pelajaran bagus yang sebenarnya diajarkan oleh Ibu tentang ritual mengambil nasi ini. Yaitu:

 Ambil lah sesuai yang kau butuhkan, dan habiskan apa yang telah kau ambil

Nda tau juga berasal dari mana budaya yang Ibu ajarkan ini, mungkin budaya Jawa karena Ibu saya berasal dari Jawa. Tapi budaya ini ternyata membekas dalam sikap saya setelah bekerja. Seperti misalnya setiap kali melaksanakan perjalanan dinas, saya hanya mengambil uang PD (perjalanan dinas), semacam uang saku, sesuai yang saya gunakan selama perjalanan. Sisanya selalu saya kembalikan.

Hanya saja, masalahnya kantor tentunya tidak bisa menerima sisa uang PD tsb, karena tidak ada akun anggaran sebagai penerimaan tersebut. Jadi biasanya uang sisa tsb saya kumpulkan, dan saat ada staf saya yang berulang tahun atau ada syukuran, uang sisa tsb bisa digunakan untuk mentraktir seluruh staf di unit saya.

Sepertinya budaya ini bagus untuk tetap dilestarikan sejak masih kanak2, yaitu dibiasakan bertanggung jawab untuk memilih porsi makan masing2 dan bertanggung jawab untuk menghabiskannya.

Selamat beristirahat 🙂

Semangat Korea

Tag

, , , ,

gate of kumoh

gerbang masuk Kumoh National Institute of Technology

Seminggu kemarin mendapat kesempatan berkunjung ke KIT, Kumoh National Institute of Technology. di Gumi, Korea Selatan. Kampusnya sangat rapi dipenuhi dengan pohon cherry dan cemara dengan arsitektur bangunannya mirip dengan kampus2 di US, kotak dan desain bata-nya untuk memberi corak khas. Desain gedung-nya pun seperti sudah direncanakan sejak awal, tidak ada kabel listrik dan jaringan yang malang melintang, pendingin dan pemanas sudah terpasang rapi di langit2 ruangan. Mahasiswa pasca juga disediakan perangkat kerja yang sangat bagus dan lengkap.

Sayangnya saya belum sempat melihat festival cherry blossom yg katanya sekitar akhir Maret – awal April. Tapi sudah ada beberapa pohon cherry yg bunganya sudah mekar. Sepertinya memang akan bagus banget kalau seluruh kampus dihiasi dengan bunga cherry.

cherry blossom

bunga cherry yang telah mekar

cherry pathway kumoh

jalan setapak yg dihiasi pohon cherry

Di KIT dikenal istilah Department dan School yang ternyata posisinya setara. School membawahi beberapa major yang masih dalam kelompok keahlian, sementara Department membawahi 1 major saja yg biasanya major baru hasil gabungan dari beberapa major yg telah ada, sehingga jauh lebih fokus (atau mungkin justru melebar?). Sebagai contoh, School of Electronics Engineering membawahi beberapa major, sementara Department of ICT Convergence membawahi 1 major yaitu ICT Convergence, namun bidang keahlian yang dibahas sebenarnya gabungan dari beberapa major, spt biomedic, AI, electronics, robotics, IoT, dll.

School dan Department diketuai oleh seorang Dean (Dekan) yang sepertinya semuanya adalah profesor. Dan yg menarik juga, IO (International Office) juga diketuai oleh seorang Dean. Di sana, Associate Professor juga menggunakan title “Professor” di kartu namanya.

Kebetulan saya berinteraksi dengan School of Electronics Engineering, jadi saya lebih banyak bermain di Digital Building dan Techno Building. Apalagi tujuan saya ke sana adalah untuk mengantar mahasiswa yang mengikuti program student exchange selama 1 semester. Oiya, semesteran di sana ternyata hanya 4 bulan, yaitu Maret-Juni dan September-Desember. Biasanya mereka juga menyelenggarakan Summer School dan Winter School untuk mahasiswa international.

Yang menarik dari para profesor yang saya ajak interaksi adalah mereka sangat ramah dan open minded untuk menerima ide2 dari luar. Bahkan penjual di convenient store dan warung2 makan juga sangat ramah, tersenyum pada customer dan menanyakan apa yg bisa mereka bantu. Berbeda dengan di Singapore yg penjualnya jarang tersenyum dan jika customer bertanya2 mereka malahan jadi cemberut, mungkin inginnya “choose, pay, and next customer please” aja  🙂

Selain ramah, mereka juga memiliki kesamaan dengan Singapore, yaitu sangat bangga dengan kebangsaannya. Mereka bangga menjadi bangsa Korea, bangga telah berhasil membawa Korea menjadi negara yg kuat ekonomi dan budayanya. Bangga, sehingga mereka hanya mau menggunakan produk buatan Korea.

Bagaimana dengan kita?
Apakah kita sudah bangga menjadi bangsa Indonesia?

Mind Shaming, Upaya Merendahkan Ide Orang Lain

Tag

,

Selama ini istilah body shaming lebih terkenal dibandingkan mind shaming, padahal dalam berbagai kasus, mind shaming memberikan efek yang lebih negatif. Kenapa? Karena jika kita merasa rendah diri karena di-body shaming-kan, kita masih bisa memperbaikinya dengan pengaturan, perawatan, dan olahraga. Namun untuk kasus mind shaming, jika kita merasa rendah diri karena ide2 kita diremehkan, maka sangat sedikit yg bisa kita lakukan untuk mengubahnya.

Memang keduanya bersumber dari orang lain (bukan dari diri sendiri), dan kita tidak bisa mengubah pandangan orang lain terhadap kita, jadi sebenarnya terserah kita apakah kita mau menerima shaming tsb dan mengubah diri kita sesuai “arahan” shaming, atau tetap tersenyum dan menganggap pendapat orang lain tsb sbg angin lalu.

Nah, terkait mind shaming, saya masih sering melihat para pimpinan yang meremehkan ide2 yg dilontarkan oleh mereka yg levelnya di bawahnya. Tapi saat ide tsh di-rephrase oleh pimpinan yg lain atau atasan mereka, ide tsb langsung disambut dgn gegap gempita. Tentunya hal ini akan membuat iklim kerja yg tidak kondusif, padahal salah satu peran pokok pimpinan adalah membangun iklim kerja yg kondusif.

Di salah satu BUMN, semangat untuk mendengarkan ide2 dari semua pihak sudah mulai ditumbuhkan, dengan harapan hal spt ini bisa menjadi budaya kerja. Beberapa caranya adalah dengan memberikan media bagi inovasi dan ide, menilainya, dan memastikan inovasi dan ide terbaik mendapatkan penghargaan. Meskipun masih terdapat beberapa kekurangan, spt misalnya mencampuradukkan antara definisi inovasi dengan ide, namun hal ini patut dihargai.

Sementara di perguruan tinggi, dosen memiliki 2 keunggulan dibandingkan mahasiswa, yaitu (1) intellectual authority di mana mahasiswa menganggap dosen adalah expert yg lebih tahu dari mereka, dan (2) practical authority di mana mahasiswa menganggap dosen berkuasa terhadap keputusan untuk meluluskan mereka atau tidak. Kedua hal ini sedikit tidak menyebabkan dosen akan terbuka untuk melakukan mind shaming terhadap ide2 yg dilontarkan mahasiswanya.

Sayangnya aspek ini belum atau jarang menjadi penilaian feedback dari mahasiswa kepada dosennya. Biasanya yg ditanyakan kepada mahasiswa adalah “apakah dosen menguasai materi?”, “apakah dosen datang tepat waktu?”, dan “apakah dosen memberikan materi sesuai silabus?”

Mudah2an kedepannya akan ada penilaian dari mahasiswa:
Apakah dosen terbuka untuk menerima ide anda?
Apakah dosen bisa membuat ide/pertanyaan anda menjadi diskusi yg menarik?

Sebuah tulisan yg menarik:
https://chroniclevitae.com/news/2163-what-is-indoctrination-and-how-do-we-avoid-it-in-class?cid=VTEVPMSED1

Apakah Indonesia bisa seperti Singapura?

Tag

, , ,

Bulan Februari ada Imlek, ingin melihat bagaimana Singapura merayakan Imlek. Akhirnya diputuskan pergi liburan ke sana pas tanggal 2 Februari dan balik tgl 5 Februari pas hari Imleknya. Tujuan utamanya memang melihat Imlek, tapi juga sekaligus mengajarkan anak2 jika ingin liburan sendiri ke Singapura. Tapi ternyata datang pas Imlek bukan keputusan yg tepat, karena sedikit sekali hiasan2 Imlek, yg ada hanya warung2 yg justru pada tutup liburan 😀 Perayaannya sendiri ada di weekend setelah Imlek. Jadi selama di sana akhirnya full buat ngajarin anak2 buat bisa liburan mandiri, sekaligus icip2 wisata kuliner.

Ada yg menarik saat anak bertanya: “Pa, kok di sini orang2nya tertib ya? Kota nya juga bersih banget”.

Diskusi pun terjadi, dan kesimpulannya:

Semua tergantung penegakan hukumnya. Karena di Singapura hukum benar2 terlihat dijalankan, orang2 jadi takut melanggar hukum. Melanggar hukum akibatnya adalah denda finansial yg harus mereka bayar, dan itu berarti mengurangi pendapatan mereka yg sudah cukup banyak dipotong untuk pajak. Dan perlahan2 hal ini jadi budaya di mereka.

Apakah kita di Indonesia bisa spt Singapura?

Sepertinya masih jauh, karena menurut saya pondasi untuk memulai disiplin hukum harus dimulai dg rasa bangga terhadap bangsa dan kemudian dilanjutkan dg harga diri yg tinggi sbg bangsa Indonesia. Informasi ini yg saya dapatkan saat mengunjungi museum lilin Madame Tussaud di Sentosa, krn di museum tsb diceritakan sejarah Singapura dari yg miskin tidak memiliki apa pun sampai bisa menjadi negara ketiga yg paling bersih dari korupsi.

Sepertinya hal yg sama juga terdapat pada Korea Selatan. Mereka benar2 bangsa yg sangat bangga dengan negaranya, very proud to be Korean 🙂

Apakah kita sudah bangga menjadi bangsa Indonesia?

Yuk follow “Good News from Indonesia”

Tip dan Trik untuk Sertifikasi Dosen

Tag

, , , ,

Patut diapresiasi inisiatif pemerintah dalam hal mengonline-kan database dosen seluruh Indonesia. Sekarang sudah ada Forlap Dikti untuk media pelaporan seluruh kegiatan perguruan tinggi, dimana kita bisa:

  • mencari status dan statistik perguruan tinggi
  • mencari status dan statistik dosen
  • mencari status dan statistik mahasiswa

Selain itu pemerintah juga telah melakukan sertifikasi terhadap tenaga pengajar dosen, yang dulu hanya menggunakan strata:

  1. Asisten Ahli (Lecturer)
  2. Lektor (Assistant Professor)
  3. Lektor Kepala (Associate Professor)
  4. Guru Besar (Professor)

sekarang setiap tenaga pengajar juga harus melalui proses sertifikasi untuk diakui sebagai dosen dengan istilah sertifikasi dosen (serdos). Tidak terasa sudah 2 tahun lalu saya mengikuti rangkaian tes sertifikasi dosen.

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui seorang dosen untuk bisa diakui melalui sertifikasi dosen, dan sudah banyak website yang membahasnya. Di sini saya hanya ingin sharing beberapa tip dan trik saat mengikuti ujian TKDA (Tes Kompetensi Dasar Akademik) yang memang lumayan sulit jika tidak memiliki strategi untuk menjawabnya.

TKDA dibagi menjadi 3 bagian tes:

  1. Verbal, untuk bagian ini saya mendapat nilai 688 (dari nilai sempurna 800)
  2. Numerikal, untuk bagian ini saya mendapat nilai 768 (dari nilai sempurna 800)
  3. Figural, untuk bagian ini saya mendapat nilai 800 (sempurna)

 

Untuk dapat menjawab bagian Verbal, perlu wawasan yang luas atas kosa kata (vocabulary). Tapi sedikit tip, nanti ada bagian yang mencari relasi, seperti misalnya:

pilot:pesawat = supir:………

untuk menjawab model soal spt ini, kita harus mencari kata atau kalimat yg dapat menghubungkan 2 kata pertama. Untuk contoh di atas, kata penghubungnya adalah “mengemudikan”, sehingga kalimat lengkapnya menjadi:

pilot mengemudikan pesawat = supir mengemudikan ………

sehingga jawabannya adalah “mobil”

 

Untuk dapat menjawab bagian Numerikal, yg dibutuhkan adalah konsentrasi dan estimasi. Karena akan sangat sulit untuk dapat menghitung seluruh soal dengan presisi, jadi harus pakai estimasi. Dengan estimasi kita memperkirakan jawaban mana saja yg kemungkinan besar salah sampai bisa menyisakan jawaban yg kemungkinan besar benar. Untuk kategori soal multiple choice, strategi ini lebih cepat dibandingkan benar2 menghitung untuk mendapatkan jawaban yg tepat.

 

Untuk dapat menjawab bagian Figural,yg dibutuhkan adalah kemampuan imajinasi. Sedikit tip untuk salah satu jenis soal 3D (yang mencari potongan gambar) adalah dengan menggambarnya di kertas coret2an lalu mencocokannya di layar monitor untuk masing2 jawaban. Sedangkan tip untuk jenis soal kubus, metodenya sama spt Numerikal yaitu mencari jawaban yg salah untuk mendapatkan yg benar. Ambil satu sisi sebagai acuan, lalu bandingkan dg setiap jawaban untuk mencari yg salah.

Semoga tips ini bisa membantu, dan jangan lupa yg terpenting adalah hati dan pikiran harus tenang, karena TKDA maupun TPA membutuhkan konsentrasi.

Smart IoT vs. Intelligent IoT

Tag

, , , , ,

Hari ini mendapat kesempatan membantu Signify Indonesia (Philips Lighting) mempromosikan produk barunya, Interact Pro yang masuk ke dalam kategori Smart Lighting, yaitu lampu yang bisa dikendalikan dan diprogram lewat smartphone spt layaknya IoT (Internet of Things).

presentasi Smart IoT

Peserta yang hadir cukup banyak, dan kebanyakan dari bidang kerja ME (Mechanical and Electrical). Beberapa juga hadir para decision maker, karena pada acara ini juga diberikan demo cara kerja produk Interact Pro dari Signify Indonesia yang bekerja sama dengan PT. Pelita Abadi Sejahtera (https://goo.gl/maps/1tKwVrc9Wt42), distributor resmi produk Philips Lighting.

Presentasi tentang Smart IoT saya arahkan ke efisiensi listrik, agar sesuai dengan topik dan target produk Interact Pro. Di akhir presentasi juga dijelaskan tentang topologi umum tentang IoT beserta berbagai protokol komunikasinya, spt Zigbee, Z-Wave, LoRa, NarrowBand-IoT, WiFi, Bluetooth LE, Mobile WSN, VANET, dll.

Namun fokus presentasi yang saya sajikan adalah pada future IoT, yaitu Intelligent IoT. Saat sidang terbuka S3 saya juga penguji menanyakan tentang konsep apa yang ada di Intelligent IoT, dan saya jelaskan perbedaannya:

Smart IoT, meskipun sudah tidak membutuhkan keterlibatan manusia dalam pengoperasian, namun aturan2 yang ditanamkan ke dalamnya bersifat predefined. Dalam artian aturan2nya bersifat fix dan hanya bisa diubah oleh admin.

Intelligent IoT, merupakan penggabungan antara Smart IoT dengan AI (Artificial Intelligence), dimana IoT memiliki kemampuan untuk learning dan growth, sehingga aturan2 yg tadinya bersifat predefined sekarang bisa bersifat fleksibel sesuai behavior dan karakter dari penggunanya.

Contoh dari Intelligent IoT adalah Jarvis dari Iron Man 🙂

Interact Pro

Sebagaimana layaknya Smart IoT, Interact Pro memiliki beberapa fitur spt bisa dikendalikan melalui smartphone, memiliki dashboard, dan yg menurut saya paling menarik adalah kemampuan dashboard dalam menampilkan informasi tentang penggunaan daya per lampu (lampu yg digunakan juga smart, sudah memiliki fitur pengukuran kWh yg digunakan dan dilaporkan ke Cloud untuk ditampilkan di dashboard).

File presentasi bisa diunduh disini.

Konser Musik dan Euphoria Anak Muda

Tag

, , ,

Beberapa hari lalu teman2 pada ribut dengan konser Guns N’ Roses dan malamnya pada pamer foto2 di lokasi konser. Rekaman2 smartphone pun bertebaran di berbagai channel, mulai dari sosial media sampai ke status dan profile picture internet messaging.

Mendengarkan rekaman2 smartphone jadi berpikir, sebenarnya apa yg dicari dengan nonton konser grup musik yg sudah cukup lawas tersebut? Kangen dengan suara Axl? Sepertinya kualitas suaranya sudah tidak sehebat dulu. Kangen dengan petikan gitar Slash? Kelincahan jari2nya juga sudah menurun.

Jadi apa yg dicari dari nonton konser tsb?
Kalau melihat dari foto2 penontonnya, usia mereka kebanyakan sudah di atas 30 tahun. Jadi sptnya memang yg dicari adalah suasananya, suasana di mana kita bisa mengenang masa muda, masa di mana kita bisa bebas berteriak dan menangis bahagia karena bisa dekat dengan idola kita  🙂

Spotify on Stage

Jadi teringat pertama kalinya menemani anak untuk menonton Spotify on Stage bulan Oktober lalu. Ada 2 idolanya yang akan manggung, yaitu Anne Marie dan Stray Kids. Saat masuk hall JIExpo sudah terasa aura yang sangat berbeda, aura passion dari anak2 muda yang begitu bergairah ingin segera berteriak dan (jika mungkin) bersalaman dengan idolanya.

Dan saat Anne Marie naik ke atas panggung, semua langsung berteriak dan berusaha ikut menyanyi. Untungnya teriakannya hanya saat Anne Marie naik ke atas panggung, sehingga selama perform semua penonton masih bisa ikut menyanyi bersama. Anne Marie memang luar biasa, dengan suaranya yg berat dan keren, dia bisa mengajak penonton untuk ikut bergembira dan bernanyi bersama.

Spotify on Stage - Stray Kids

Tapi suasana berubah drastis saat Stray Kids naik ke atas panggung. Penonton tidak hanya berteriak, namun sudah histeris. Penonton yang di depan berusaha mendesak semakin ke depan, sampai terlihat beberapa penonton wanita dibopong ke belakang karena pingsan. Anak saya yg berumur 12 tahun juga berteriak2 histeris, sampai minta digendong agar bisa melihat idolanya di atas panggung dengan jelas  🙂

Sampai Stray Kids sendiri terlihat sangat kuatir dengan kondisi tersebut, dan sempat menarik diri dari panggung dan menolak manggung jika kondisinya masih tidak kondusif.

Memang suasana konser musik di mana kita bisa berteriak bebas melepaskan emosi ternyata bisa menjadi daya tarik tersendiri. Sekarang bisa mengerti mengapa teman2 yang melakukan demonstrasi lebih suka melakukannya dengan berteriak2 meskipun panas terik dan hujan badai.

Menghormati Kearifan Budaya Lokal

Tag

, , ,

2018-11-03 10.23.50.jpg

berkunjung ke Kebun Binatang Bandung perlu pakai gelang akses dg QR Code, keren, tapi sptnya mubazir

Setelah 5 tahun akhirnya bisa ke Kebun Binatang Bandung lagi. Soalnya kalau lagi kuliah di ITB “katanya” nda boleh ke Kebun Binatang Bandung, karena bisa nda lulus-lulus dan akhirnya DO.

Kok masih percaya yg ginian?

Bagi saya sih bukan masalah percaya atau tidak, tapi masalah menghormati kearifan budaya lokal. Sama seperti di Bali dan Jawa, pasti ada alasan tertentu para tetua membuat mitos2 spt itu. Sepanjang bisa dijalani ya saya jalani saja 🙂

Di Bali, khususnya di keluarga besar saya, yaitu pande gong di Sawan, kami tidak dianjurkan makan ikan gabus karena katanya jaman dulu ikan tsb pernah membantu leluhur sehingga leluhur merasa berhutang budi. Hal ini juga saya jalani, meskipun kadang2 keceplosan karena ternyata ada beberapa ikan asin jambal yg dibuat dari ikan gabus.

Di Jawa juga demikian. Dari kecil saya dibiasakan oleh Ibu saya yang berasal dari Jawa untuk selalu menyapa orang lain dan saat makan di tempat umum agar selalu minta ijin untuk makan pada orang2 di sekitar kita (terutama yang duduk semeja). Hal ini selalu saya jalani, meskipun banyak orang jadi memandang curiga  🙂

You shouldn’t judge other by your standard

Singkat cerita, hari ini saya bisa berkunjung ke Kebun Binatang Bandung lagi setelah 5 tahun menyelesaikan kuliah di ITB. Banyak perubahan yg terjadi. Tiket masuk sekarang jadi 40rb tapi pakai pengamanan barcode spt tempat wisata lainnya, dan harga tsb sudah termasuk wahana perahu dayung.

2018-11-03 10.24.43.jpg

Binatang2 yg ada di Kebun Binatang Bandung juga terlihat lebih sehat dibanding dulu pas terakhir ke sini. Bahkan sudah ada atraksi hewan pada jam2 tertentu.

Salut pada Kebun Binatang Bandung yg telah bertransformasi.

Breakthrough Cyber Terror, Hoax, dan Confirmation Bias

Tag

, , , ,

Breakthrough Cyber Terror - Seminar

membawakan presentasi tentang Confirmation Bias pada Seminar Breakthrough Cyberterror

Hari ini mengisi acara seminar Breakthrough Cyber Terror sebagai pemeran pendamping. Pemeran utamanya mas Josua yg sudah well-respected di dunia cyber hacking. Karena materi yg dibawakan mas Josua adalah tentang teori dan praktik hacking, maka saya membawakan aspek yg berbeda agar tidak membosankan.

Materi yg saya bawa adalah tentang bagaimana caranya meyakinkan stakeholder bahwa system yg kita gunakan adalah aman. Caranya menggunakan aspek psikologis yg saat ini lagi lumayan booming, yaitu confirmation bias, atau myside bias.

Tapi, apa hubungan cyber terror dengan confirmation bias? Kenapa aspek ini yang digunakan sebagai materi diskusi?

Pada saat suatu hacking terjadi, yang paling terasa imbasnya adalah kepercayaan para stakeholder. Oleh karenanya sangat penting untuk menjaga kepercayaan stakeholder terhadap system yg digunakan.

Ada 2 pendekatan yg saya ungkapkan pada diskusi kali ini, yaitu:

  1. menggunakan aspek psikologi confirmation bias,
  2. menggunakan system yg sudah well respected.

Namun fokus diskusi ada pada poin nomor 1. Idenya adalah spt ini:

100 debunked hoax akan menjadikan event ke 101 dianggap sbg hoax

Jadi idenya adalah membuat banyak claim bahwa system bisa di-hack tapi kita bantah, tentunya, dengan eviden yg kuat. Jika hal ini dilakukan berulang2, akhirnya saat benar2 ada event yg true positive (claim system bisa di-hack), stakeholder akan menganggapnya sebagai hoax.

Diskusi memang akhirnya lebih banyak terjadi pada hoax di masyarakat, dan ada beberapa diskusi yg menarik dan perlu saya cantumkan di sini agar bisa jadi catatan buat saya.

  1. Apa yang harus kita lakukan untuk mengurangi penyebaran hoax?
    Presentasi yg saya bawakan ttg Confirmation Bias membahas aspek “bagaimana kita menanamkan informasi pada seseorang sebelum ada berita hoax, sehingga pada saat ada berita hoax seseorang tersebut akan menolaknya”. Kalau dari sudut pandang Confirmation Bias, terlihat sangat sulit menangkal hoax, karena seberapa pun keras dan seringnya kita membantah hoax dg bukti, tetap aja akan diterima sebagai fakta oleh sebagian orang, karena merasa nyaman dengan hoax tsb, dan itu lah Confirmation Bias. Jadi, menurut Confirmation Bias, sebelum ada hoax, kita bisa mencegahnya dg sering2 memuat fakta. Misalnya untuk menangkal hoax tentang harga sembako, kita bisa menayangkan harga sembako di tiap pasar induk, sehingga saat ada hoax yg mengatakan harga sembako sangat tinggi, orang yg membaca hoax tsb akan menolaknya karena telah tersimpan dalam ingatannya bahwa harga sembako sebenarnya stabil.
  2. Jika Facebook adalah sumber utama penyebaran hoax, kenapa tidak ditutup saja?
    Dari yang pernah saya baca, dari seluruh postingan di Facebook, hanya sebagian kecil yang hoax. Jadi sayang kalau Facebook ditutup hanya karena ulah sebagian kecil postingan. Yang bisa kita lakukan adalah memperbanyak postingan positif untuk menanamkan persepsi dan informasi pada semua teman kita di Facebook bahwa “all is well” [movie: 3 Idiots].
  3. Bagaimana caranya “menghapus” informasi hoax di dalam ingatan seseorang?
    Nah ini pertanyaan yg sulit, karena sudah membahas domainnya psikiater. Tapi dari yg pernah saya baca (lupa dari mana sumbernya), otak kita terdiri dari 3 bagian, dan salah satunya adalah yg disebut dengan “otak reptil”. Bagian otak ini, cmiiw, bisa “menghapus” informasi hoax saat orang tsb merasa terancam. Misalnya diciduk aparat keamanan karena pernah menyebarkan hoax, hal ini bisa mengaktifkan “otak reptil” dan menanamkan persepsi bahwa beberapa informasi yg diingatnya adalah hoax.

Link presentasi ada disini: Breakthrough Cyber Terror – Psychological Perspective.