Online Training CCNA: Introduction to Networks di Indonesia

Tag

, , , ,

Yuk ikutan online training dan juga ujian sertifikasi CCNA: Introduction to Network. Laboratorium MBC (Multimedia – BIG Data – Cybersecurity) di bawah Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom bekerja sama dengan Cisco Networking Academy (NetAcad) menyelenggarakan training dan ujian sertifikasi CCNA7.

Disclaimer:
CCNA dari Cisco NetAcad berbeda dengan CCNA untuk profesional karena yang ini khusus diberikan untuk siswa/mahasiswa di suatu institusi pendidikan. Training CCNA dari Cisco NetAcad ini terdiri dari 3 level dan training ini mengajarkan Level 1:
Level 1. Introduction to Networks
Level 2. Switching, Routing, and Wireless Essentials
Level 3. Enterprise Networking, Security, and Automation

Meskipun sertifikatnya berasal dari Cisco Networking Academy, namun materinya sangat mirip dengan materi CCNA untuk Profesional yang mencakup 3 level di atas. Jadi bisa dibilang kalau mengikuti training ini, kita sudah menguasai 1/3 dari materi untuk bisa mengikuti ujian sertifikasi CCNA untuk profesional.

Berikut adalah jadwal training batch 1 CCNA: Introduction to Networks:
22-24 Juni: Modules 1-3 Basic Network Connectivity and Communications
29 Juni – 2 Juli: Modules 4-7 Ethernet Concepts
6-8 Juli: Modules 8-10 Communicating Between Networks
13-15 Juli: Modules 11-13 IP Addressing
20-21 Juli: Modules 14-15 Network Application Communications
22-23 Juli: Modules 16-17 Building and Securing a Small Network

note:
1 modul diberikan dalam 1 hari (slow paced):
sesi 1 (09.00-12.00): sesi dengan panduan instruktur
sesi 2 (13.00-15.00): sesi latihan mandiri

informasi lebih lanjut, bisa melihat di website:
https://honeynet.telkomuniversity.ac.id/training-ccna/

atau via WA (Rahyuni): 08112255799

CCNA Telkom University

Apa itu IT Master Plan (ITMP)? Hal yang Perlu anda ketahui tentang ITMP

Tag

, , , , , ,

contoh desain IT System Architecture

Information Technology Master Plan (ITMP) adalah rencana pengembangan IT pada semua aspek yang dibagi menjadi beberapa milestone, beserta rencana anggaran dan resikonya. ITMP disusun atau diturunkan berdasarkan rencana strategis institusi / perusahaan yang biasa disebut dengan Corporate Strategic Plan (CSP/CSS) atau Rencana Strategis (Renstra).

Selama ini sudah ada beberapa dokumen ITMP yg saya buat dan fokus utamanya pada pengembangan di institusi pendidikan. Mudah2an rangkuman berikut dalam bentuk Question & Answer bisa membantu teman2 di unit IT untuk membangun sendiri ITMP di institusi masing2.

  1. Kenapa lebih baik menyusun sendiri dokumen ITMP?
    Karena yang paling mengenal faktor2 SWOT dan budaya di suatu institusi adalah orang di dalam institusi tersebut. Aspek2 ini lah yg sangat menentukan suatu ITMP bisa dieksekusi oleh seluruh personil karena ada kemauan, jangan sampai kita membuat ITMP tapi hanya menjadi “pajangan” saja
  2. Apakah berbeda jauh antara ITMP di institusi pendidikan dengan perusahaan?
    Iya, bahkan perbedaan bidang usaha pada perusahaan A dengan B akan membuat ITMP bisa berbeda jauh. Perbedaan terletak pada faktor2 internal/eksternal dan budayanya. Struktur dokumen ITMP-nya memang bisa sama, tapi isi kontennya yg bisa jauh berbeda. Jadi jangan main percaya saja dengan konsultan yg hanya main copas isi dokumen ITMP dari tempat lain
  3. Sudah banyak kah institusi pendidikan yang memiliki ITMP?
    Sejauh ini masih sangat sedikit institusi pendidikan yang memiliki ITMP karena unit IT masih memegang konsep IT sebagai Support, mengembangkan IT secara best effort sesuai permintaan user (unit lain). Justru dengan adanya ITMP maka seluruh pengembangan IT menjadi terkendali, jika ada unit lain yg minta pengembangan suatu layanan, IT bisa menjelaskan bahwa sesuai dokumen ITMP layanan tsb baru bisa dideliver di tahun dan bulan sekian karena blablabla (misalnya: ada ketergantungan terhadap sistem lainnya yg harus dideliver terlebih dahulu)
  4. Apakah Dokumen ITMP sifatnya rahasia?
    Iya dan Tidak. Sebagian konten ITMP memang bersifat rahasia, spt misalnya rencana anggaran yg jika diketahui vendor bisa mempengaruhi kebijakan semula. Namun untuk bagian yg bersifat umum (generik), sama spt CSP/Renstra yang diupload di website, maka bagian ITMP ini juga bisa dibuka untuk publik, semata2 untuk menunjukkan keseriusan dan reliabilitas institusi yg komit terhadap IT
  5. Apa saja yang ada di dalam suatu IT Master Plan?
    Bisa bermacam2, tergantung referensi yg digunakan. Tapi minimal ada 4 komponen:
    1. Kondisi snapshot IT saat ini
    2. Kondisi IT di masa depan sesuai CSP/Renstra
    3. Bagaimana caranya institusi berkembang dari kondisi saat ini (no. 1) menjadi kondisi masa depan (no. 2)
    4. Apa saja yang menjadi konsideran dari no.3 (anggaran dan resiko per milestone)
  6. Apa saja referensi yang perlu dipahami untuk bisa menyusun sendiri dokumen ITMP?
    Biasanya saya menggunakan TOGAF sebagai kerangka besarnya, ditambah dengan kerangka COBIT dan TMForum

Jika teman2 dari unit IT di institusi pendidikan ingin berdiskusi terkait ITMP, silahkan saja, free kok 🙂

Web Server = FreeBSD 11.3 + Apache 2.4 + PHP 7.3 + MySQL 5.7

Tag

, , , ,

It Works! - FreeBSD 11.3 + Apache 2.4 + PHP 7.3 + MySQL 5.7

Web Server berbasis Apache 2.4, PHP 7.3, dan MySQL 3.7 di atas FreeBSD 11.3

Pingin bikin web server dengan Apache 2.4 + PHP 7.3 + MySQL 5.7 di atas FreeBSD 11.3? Tutorial ini membahas kembali cara instalasinya karena ternyata banyak yg berbeda dibandingkan dokumen lama yg pernah saya bikin 15 tahun yg lalu  😀

Minggu lalu anak saya yg kelas 8 dapat tugas bikin website sederhana dengan PHP, nyoba2 semua VM ternyata nda ada yg ready untuk web server. Akhirnya pinjam server production di cloud buat anak bisa nyoba script PHP-nya. Setelah tugasnya selesai, akhirnya malahan saya yg tergoda untuk mencoba membangun web server di VM.

Perjalanan saya mulai dengan mendownload FreeBSD,  dilihat2 untuk level production yg tersedia adalah versi 11.3, jadi lah saya download yg versi tersebut. Install di VM VirtualBox,  selesai dalam waktu sekitar 8 menit. Setting rc.conf untuk konfigurasi sistem (spt DHCP, SSH Daemon, dan disable Sendmail), maka server sudah siap.

Selanjutnya install Apache untuk bisa menjadi web server.

# cd /usr/ports/www/apache24
# make install clean

Instalasi cukup cepat, hanya sekitar 10 menit. Setelah selesai instalasinya, jangan lupa setting rc.conf dengan menambahkan baris berikut:

apache24_enable=”YES”

Lanjut ke instalasi MySQL untuk bisa menyimpan database.

# cd /usr/ports/databases/mysql57-server
# make install clean

Setelah selesai instalasi (lumayan lebih lama, sekitar 30 menit), jangan lupa setting rc.conf dengan menambahkan baris berikut:

mysql_enable=”YES”

Kalau dulu dg step spt ini semuanya sudah beres, tapi ternyata sekarang ada masalah. Ternyata, entah kenapa, ada password default yg dipasang oleh installer, sehingga saya tidak bisa masuk ke mysql server karena diminta password (padahal saya belum memasukkan password). Browsing2, akhirnya ketemu caranya:

# service mysql-server stop
# mysqld –skip-grant-tables
# mysql -u root
mysql> use mysql;
mysql> update user set authentication_string = password(‘newPassword’) where user=’root’;
mysql> flush privileges;
mysql> exit
# mysqladmin -p password ‘newPassword’

Masalah ini yang lumayan bikin lama, karena mencari website yg tepat lumayan susah. Untung lah ketemu di forum-nya FreeBSD.

Sekarang lanjut ke instalasi PHP.

# cd /usr/ports/lang/php73
# make install clean
# cd /usr/ports/lang/php73-extensions
# make install clean

Instalasi PHP lumayan lama, sekitar 6 jam. Bukan instalasinya sih yg lama, tapi tiap kali mau install, ada dialog yg muncul untuk menunggu pilihan kita [OK] atau mau ada yg diubah modul2 yg ingin diinstall.  😀

Setelah selesai instalasi PHP, yg bikin bingung adalah mengaktifkannya di Apache. Dulu setelah selesai install PHP dan Extensions-nya, tinggal inputkan beberapa baris tambahan di httpd.conf langsung beres:

LoadModule php7_module libexec/apache24/libphp7.so
<IfModule dir_module>
DirectoryIndex index.html index.php
</IfModule>
AddType application/x-httpd-php .php
AddType application/x-httpd-php-source .phps

Tapi sekarang metode tsb gagal. Katanya dia tidak mengenal API “php7_module”.  😦

Ternyata setelah browsing2 ke FreshPort, ada yg harus saya install lagi

# cd /usr/ports/www/mod_php73
# make install clean

Lanjut ke testing dg script echo:

<html>
<body>
<?php echo “Halo, ini php”; ?>
</body>
</html>

Ternyata script php sudah bisa dijalankan oleh Apache…. yeaaay

Selanjutnya testing PHP ke MySQL. Tapi ini nanti aja, udah kepanjangan buat 1 artikel, nanti dilanjut lagi.

 

Lobster masak saus mentega dan black pepper

Tag

, , ,

Pingin ngerasain lobster masak saus mentega? Ditambah remukan biji lada hitam? Dengan harga murah?

Minggu lalu dikontak teman kerja yg sudah resign dan pulang ke rumah untuk melanjutkan usaha keluarga. Dia menawarkan lobster hasil dari nelayan lokal di delat rumahnya. Awalnya tergiur mendengar kata lobster, apalagi harganya yg murah. Hanya 75rb per kilo 🤩

Price List Lobster, harga bisa berubah tergantung cuaca yg mempengaruhi hasil tangkapan nelayan

Pesan 1 kilo trus bingung, gimana caranya masak ya? 😅

Cari2 di Internet, sptnya mudah.

Pertama2 lobsternya dibersihkan (dibilas air bersih yg banyak, karena masih banyak pasirnya). Trus rebus sebentar dg bawang putih dan garam sampai lobsternya berwarna kemerahan.

Setelah itu bisa dimasak bumbu padang, bumbu singapore, atau saos mentega + black pepper. Saya masak yg saos mentega + black pepper, dan hasilnya luar biasa lezat;

Lobster saos mentega + black pepper

Yuk, sejahterakan petani dan nelayan lokal 😍

Mengajar Mahasiswa Singapore di Korea

Tag

, ,

Bulan Juli 2019 mendapat kesempatan mengajar di Hanyang University, Korea, dalam program Summer School-nya. Namun, meskipun ngajarnya di Korea, ternyata hanya ada 1 mahasiswi yg asli Korea, itu pun kuliahnya di Singapore. Jadi lokasi ngajar di Korea tapi seperti mengajar di Singapore  🙂

Ada banyak inovasi yang saya gunakan saat mengajar di Summer School ini, salah satunya adalah menggunakan aplikasi online bernama Socrative. Aplikasi ini membantu untuk mengevaluasi pemahaman mahasiswa dalam bentuk quiz secara online, dan saya gunakan di setiap pertemuan untuk “memaksa” mahasiswa selalu fokus mendengarkan karena di akhir kelas akan ada quiz yg berbobot 40% dari total nilai akhir.

Banyak hal berkesan yang diperoleh selama mengajar 1 bulan di program Summer School tersebut. Dengan mengajar 2 kelas di program tersebut, C++ Programming dan Microprocessor and IoT, meskipun mayoritas mahasiswanya berasal dari kampus yg sama NUS dan NTU, tapi ternyata karakternya lumayan berbeda.

Pada kelas C++ Programming, mahasiswanya ternyata sebagian besar bukan berasal dari engineering, sehingga cukup menantang untuk diskusi topik ini dengan mahasiswa kimia dan farmasi. Sementara ada beberapa yg memang engineering. Sehingga sangat terasa gap-nya, saat mengajar basic sedikit kelamaan, yg engineering protes, tapi saat mulai berlatih dengan membangun database online, yg non-engineering yg protes  😀

Sementara untuk kelas Microprocessor and IoT, semua peserta berasal dari engineering, sehingga diskusi berjalan dengan lancar, bahkan terkadang terlalu lancar 😀

 

Dan ternyata memang terlihat dari hasil feedback mahasiwa, untuk kelas Microprocessor and IoT, sebagian besar merasa sangat puas dengan materi ajarnya, namun sebaliknya untuk kelas C++ Programming, sebagian besar merasa kecewa dengan materi ajarnya 😀

Next mudah2an saat mengajar di kelas berikutnya saya bisa lebih mampu menjembatani gap tersebut.

 

Ambil yang Kau Butuhkan, Habiskan yang Kau Ambil

Tag

, ,

Sejak kecil saya sudah nda punya Bapak, jadi otomatis Ibu yang membesarkan saya. Setiap malam, kami dibiasakan untuk makan malam bersama, duduk di meja dan menyantap apa pun makanan yang disajikan, tidak boleh mengeluh. Selain itu, setiap orang di keluarga, harus mengambil sendiri nasi dari tempatnya sesuai porsinya masing-masing, dan wajib menghabiskan sejumlah yang diambil tersebut. Kalau ada yg belum habis, maka seluruh anggota keluarga harus menunggu sampai semua piring makan bersih.

Setelah selesai santap malam, seluruh peralatan makan dibereskan. Ada yang bertugas membersihkan peralatan makan, ada yg bertugas menyimpan lauk yang belum habis di lemari, dan ada yg bertugas membersihkan meja makan. Kemudian ritual dilanjutkan dengan belajar bersama, tetap di meja makan (soalnya cuma ada 1 meja di rumah). Meskipun apa yg dipelajari berbeda2, tapi tetap belajarnya di 1 meja. Dulu ritual ini bisa terjaga, karena belum ada Internet, belum ada gadget, dan acara TV juga membosankan.

Setelah beberapa puluh tahun, saya baru menyadari kalau ada pelajaran bagus yang sebenarnya diajarkan oleh Ibu tentang ritual mengambil nasi ini. Yaitu:

 Ambil lah sesuai yang kau butuhkan, dan habiskan apa yang telah kau ambil

Nda tau juga berasal dari mana budaya yang Ibu ajarkan ini, mungkin budaya Jawa karena Ibu saya berasal dari Jawa. Tapi budaya ini ternyata membekas dalam sikap saya setelah bekerja. Seperti misalnya setiap kali melaksanakan perjalanan dinas, saya hanya mengambil uang PD (perjalanan dinas), semacam uang saku, sesuai yang saya gunakan selama perjalanan. Sisanya selalu saya kembalikan.

Hanya saja, masalahnya kantor tentunya tidak bisa menerima sisa uang PD tsb, karena tidak ada akun anggaran sebagai penerimaan tersebut. Jadi biasanya uang sisa tsb saya kumpulkan, dan saat ada staf saya yang berulang tahun atau ada syukuran, uang sisa tsb bisa digunakan untuk mentraktir seluruh staf di unit saya.

Sepertinya budaya ini bagus untuk tetap dilestarikan sejak masih kanak2, yaitu dibiasakan bertanggung jawab untuk memilih porsi makan masing2 dan bertanggung jawab untuk menghabiskannya.

Selamat beristirahat 🙂

Semangat Korea

Tag

, , , ,

gate of kumoh

gerbang masuk Kumoh National Institute of Technology

Seminggu kemarin mendapat kesempatan berkunjung ke KIT, Kumoh National Institute of Technology. di Gumi, Korea Selatan. Kampusnya sangat rapi dipenuhi dengan pohon cherry dan cemara dengan arsitektur bangunannya mirip dengan kampus2 di US, kotak dan desain bata-nya untuk memberi corak khas. Desain gedung-nya pun seperti sudah direncanakan sejak awal, tidak ada kabel listrik dan jaringan yang malang melintang, pendingin dan pemanas sudah terpasang rapi di langit2 ruangan. Mahasiswa pasca juga disediakan perangkat kerja yang sangat bagus dan lengkap.

Sayangnya saya belum sempat melihat festival cherry blossom yg katanya sekitar akhir Maret – awal April. Tapi sudah ada beberapa pohon cherry yg bunganya sudah mekar. Sepertinya memang akan bagus banget kalau seluruh kampus dihiasi dengan bunga cherry.

cherry blossom

bunga cherry yang telah mekar

cherry pathway kumoh

jalan setapak yg dihiasi pohon cherry

Di KIT dikenal istilah Department dan School yang ternyata posisinya setara. School membawahi beberapa major yang masih dalam kelompok keahlian, sementara Department membawahi 1 major saja yg biasanya major baru hasil gabungan dari beberapa major yg telah ada, sehingga jauh lebih fokus (atau mungkin justru melebar?). Sebagai contoh, School of Electronics Engineering membawahi beberapa major, sementara Department of ICT Convergence membawahi 1 major yaitu ICT Convergence, namun bidang keahlian yang dibahas sebenarnya gabungan dari beberapa major, spt biomedic, AI, electronics, robotics, IoT, dll.

School dan Department diketuai oleh seorang Dean (Dekan) yang sepertinya semuanya adalah profesor. Dan yg menarik juga, IO (International Office) juga diketuai oleh seorang Dean. Di sana, Associate Professor juga menggunakan title “Professor” di kartu namanya.

Kebetulan saya berinteraksi dengan School of Electronics Engineering, jadi saya lebih banyak bermain di Digital Building dan Techno Building. Apalagi tujuan saya ke sana adalah untuk mengantar mahasiswa yang mengikuti program student exchange selama 1 semester. Oiya, semesteran di sana ternyata hanya 4 bulan, yaitu Maret-Juni dan September-Desember. Biasanya mereka juga menyelenggarakan Summer School dan Winter School untuk mahasiswa international.

Yang menarik dari para profesor yang saya ajak interaksi adalah mereka sangat ramah dan open minded untuk menerima ide2 dari luar. Bahkan penjual di convenient store dan warung2 makan juga sangat ramah, tersenyum pada customer dan menanyakan apa yg bisa mereka bantu. Berbeda dengan di Singapore yg penjualnya jarang tersenyum dan jika customer bertanya2 mereka malahan jadi cemberut, mungkin inginnya “choose, pay, and next customer please” aja  🙂

Selain ramah, mereka juga memiliki kesamaan dengan Singapore, yaitu sangat bangga dengan kebangsaannya. Mereka bangga menjadi bangsa Korea, bangga telah berhasil membawa Korea menjadi negara yg kuat ekonomi dan budayanya. Bangga, sehingga mereka hanya mau menggunakan produk buatan Korea.

Bagaimana dengan kita?
Apakah kita sudah bangga menjadi bangsa Indonesia?

Mind Shaming, Upaya Merendahkan Ide Orang Lain

Tag

,

Selama ini istilah body shaming lebih terkenal dibandingkan mind shaming, padahal dalam berbagai kasus, mind shaming memberikan efek yang lebih negatif. Kenapa? Karena jika kita merasa rendah diri karena di-body shaming-kan, kita masih bisa memperbaikinya dengan pengaturan, perawatan, dan olahraga. Namun untuk kasus mind shaming, jika kita merasa rendah diri karena ide2 kita diremehkan, maka sangat sedikit yg bisa kita lakukan untuk mengubahnya.

Memang keduanya bersumber dari orang lain (bukan dari diri sendiri), dan kita tidak bisa mengubah pandangan orang lain terhadap kita, jadi sebenarnya terserah kita apakah kita mau menerima shaming tsb dan mengubah diri kita sesuai “arahan” shaming, atau tetap tersenyum dan menganggap pendapat orang lain tsb sbg angin lalu.

Nah, terkait mind shaming, saya masih sering melihat para pimpinan yang meremehkan ide2 yg dilontarkan oleh mereka yg levelnya di bawahnya. Tapi saat ide tsh di-rephrase oleh pimpinan yg lain atau atasan mereka, ide tsb langsung disambut dgn gegap gempita. Tentunya hal ini akan membuat iklim kerja yg tidak kondusif, padahal salah satu peran pokok pimpinan adalah membangun iklim kerja yg kondusif.

Di salah satu BUMN, semangat untuk mendengarkan ide2 dari semua pihak sudah mulai ditumbuhkan, dengan harapan hal spt ini bisa menjadi budaya kerja. Beberapa caranya adalah dengan memberikan media bagi inovasi dan ide, menilainya, dan memastikan inovasi dan ide terbaik mendapatkan penghargaan. Meskipun masih terdapat beberapa kekurangan, spt misalnya mencampuradukkan antara definisi inovasi dengan ide, namun hal ini patut dihargai.

Sementara di perguruan tinggi, dosen memiliki 2 keunggulan dibandingkan mahasiswa, yaitu (1) intellectual authority di mana mahasiswa menganggap dosen adalah expert yg lebih tahu dari mereka, dan (2) practical authority di mana mahasiswa menganggap dosen berkuasa terhadap keputusan untuk meluluskan mereka atau tidak. Kedua hal ini sedikit tidak menyebabkan dosen akan terbuka untuk melakukan mind shaming terhadap ide2 yg dilontarkan mahasiswanya.

Sayangnya aspek ini belum atau jarang menjadi penilaian feedback dari mahasiswa kepada dosennya. Biasanya yg ditanyakan kepada mahasiswa adalah “apakah dosen menguasai materi?”, “apakah dosen datang tepat waktu?”, dan “apakah dosen memberikan materi sesuai silabus?”

Mudah2an kedepannya akan ada penilaian dari mahasiswa:
Apakah dosen terbuka untuk menerima ide anda?
Apakah dosen bisa membuat ide/pertanyaan anda menjadi diskusi yg menarik?

Sebuah tulisan yg menarik:
https://chroniclevitae.com/news/2163-what-is-indoctrination-and-how-do-we-avoid-it-in-class?cid=VTEVPMSED1

Apakah Indonesia bisa seperti Singapura?

Tag

, , ,

Bulan Februari ada Imlek, ingin melihat bagaimana Singapura merayakan Imlek. Akhirnya diputuskan pergi liburan ke sana pas tanggal 2 Februari dan balik tgl 5 Februari pas hari Imleknya. Tujuan utamanya memang melihat Imlek, tapi juga sekaligus mengajarkan anak2 jika ingin liburan sendiri ke Singapura. Tapi ternyata datang pas Imlek bukan keputusan yg tepat, karena sedikit sekali hiasan2 Imlek, yg ada hanya warung2 yg justru pada tutup liburan 😀 Perayaannya sendiri ada di weekend setelah Imlek. Jadi selama di sana akhirnya full buat ngajarin anak2 buat bisa liburan mandiri, sekaligus icip2 wisata kuliner.

Ada yg menarik saat anak bertanya: “Pa, kok di sini orang2nya tertib ya? Kota nya juga bersih banget”.

Diskusi pun terjadi, dan kesimpulannya:

Semua tergantung penegakan hukumnya. Karena di Singapura hukum benar2 terlihat dijalankan, orang2 jadi takut melanggar hukum. Melanggar hukum akibatnya adalah denda finansial yg harus mereka bayar, dan itu berarti mengurangi pendapatan mereka yg sudah cukup banyak dipotong untuk pajak. Dan perlahan2 hal ini jadi budaya di mereka.

Apakah kita di Indonesia bisa spt Singapura?

Sepertinya masih jauh, karena menurut saya pondasi untuk memulai disiplin hukum harus dimulai dg rasa bangga terhadap bangsa dan kemudian dilanjutkan dg harga diri yg tinggi sbg bangsa Indonesia. Informasi ini yg saya dapatkan saat mengunjungi museum lilin Madame Tussaud di Sentosa, krn di museum tsb diceritakan sejarah Singapura dari yg miskin tidak memiliki apa pun sampai bisa menjadi negara ketiga yg paling bersih dari korupsi.

Sepertinya hal yg sama juga terdapat pada Korea Selatan. Mereka benar2 bangsa yg sangat bangga dengan negaranya, very proud to be Korean 🙂

Apakah kita sudah bangga menjadi bangsa Indonesia?

Yuk follow “Good News from Indonesia”

Tip dan Trik untuk Sertifikasi Dosen

Tag

, , , ,

Patut diapresiasi inisiatif pemerintah dalam hal mengonline-kan database dosen seluruh Indonesia. Sekarang sudah ada Forlap Dikti untuk media pelaporan seluruh kegiatan perguruan tinggi, dimana kita bisa:

  • mencari status dan statistik perguruan tinggi
  • mencari status dan statistik dosen
  • mencari status dan statistik mahasiswa

Selain itu pemerintah juga telah melakukan sertifikasi terhadap tenaga pengajar dosen, yang dulu hanya menggunakan strata:

  1. Asisten Ahli (Lecturer)
  2. Lektor (Assistant Professor)
  3. Lektor Kepala (Associate Professor)
  4. Guru Besar (Professor)

sekarang setiap tenaga pengajar juga harus melalui proses sertifikasi untuk diakui sebagai dosen dengan istilah sertifikasi dosen (serdos). Tidak terasa sudah 2 tahun lalu saya mengikuti rangkaian tes sertifikasi dosen.

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui seorang dosen untuk bisa diakui melalui sertifikasi dosen, dan sudah banyak website yang membahasnya. Di sini saya hanya ingin sharing beberapa tip dan trik saat mengikuti ujian TKDA (Tes Kompetensi Dasar Akademik) yang memang lumayan sulit jika tidak memiliki strategi untuk menjawabnya.

TKDA dibagi menjadi 3 bagian tes:

  1. Verbal, untuk bagian ini saya mendapat nilai 688 (dari nilai sempurna 800)
  2. Numerikal, untuk bagian ini saya mendapat nilai 768 (dari nilai sempurna 800)
  3. Figural, untuk bagian ini saya mendapat nilai 800 (sempurna)

 

Untuk dapat menjawab bagian Verbal, perlu wawasan yang luas atas kosa kata (vocabulary). Tapi sedikit tip, nanti ada bagian yang mencari relasi, seperti misalnya:

pilot:pesawat = supir:………

untuk menjawab model soal spt ini, kita harus mencari kata atau kalimat yg dapat menghubungkan 2 kata pertama. Untuk contoh di atas, kata penghubungnya adalah “mengemudikan”, sehingga kalimat lengkapnya menjadi:

pilot mengemudikan pesawat = supir mengemudikan ………

sehingga jawabannya adalah “mobil”

 

Untuk dapat menjawab bagian Numerikal, yg dibutuhkan adalah konsentrasi dan estimasi. Karena akan sangat sulit untuk dapat menghitung seluruh soal dengan presisi, jadi harus pakai estimasi. Dengan estimasi kita memperkirakan jawaban mana saja yg kemungkinan besar salah sampai bisa menyisakan jawaban yg kemungkinan besar benar. Untuk kategori soal multiple choice, strategi ini lebih cepat dibandingkan benar2 menghitung untuk mendapatkan jawaban yg tepat.

 

Untuk dapat menjawab bagian Figural,yg dibutuhkan adalah kemampuan imajinasi. Sedikit tip untuk salah satu jenis soal 3D (yang mencari potongan gambar) adalah dengan menggambarnya di kertas coret2an lalu mencocokannya di layar monitor untuk masing2 jawaban. Sedangkan tip untuk jenis soal kubus, metodenya sama spt Numerikal yaitu mencari jawaban yg salah untuk mendapatkan yg benar. Ambil satu sisi sebagai acuan, lalu bandingkan dg setiap jawaban untuk mencari yg salah.

Semoga tips ini bisa membantu, dan jangan lupa yg terpenting adalah hati dan pikiran harus tenang, karena TKDA maupun TPA membutuhkan konsentrasi.