Apakah Indonesia bisa seperti Singapura?

Tag

, , ,

Bulan Februari ada Imlek, ingin melihat bagaimana Singapura merayakan Imlek. Akhirnya diputuskan pergi liburan ke sana pas tanggal 2 Februari dan balik tgl 5 Februari pas hari Imleknya. Tujuan utamanya memang melihat Imlek, tapi juga sekaligus mengajarkan anak2 jika ingin liburan sendiri ke Singapura. Tapi ternyata datang pas Imlek bukan keputusan yg tepat, karena sedikit sekali hiasan2 Imlek, yg ada hanya warung2 yg justru pada tutup liburan 😀 Perayaannya sendiri ada di weekend setelah Imlek. Jadi selama di sana akhirnya full buat ngajarin anak2 buat bisa liburan mandiri, sekaligus icip2 wisata kuliner.

Ada yg menarik saat anak bertanya: “Pa, kok di sini orang2nya tertib ya? Kota nya juga bersih banget”.

Diskusi pun terjadi, dan kesimpulannya:

Semua tergantung penegakan hukumnya. Karena di Singapura hukum benar2 terlihat dijalankan, orang2 jadi takut melanggar hukum. Melanggar hukum akibatnya adalah denda finansial yg harus mereka bayar, dan itu berarti mengurangi pendapatan mereka yg sudah cukup banyak dipotong untuk pajak. Dan perlahan2 hal ini jadi budaya di mereka.

Apakah kita di Indonesia bisa spt Singapura?

Sepertinya masih jauh, karena menurut saya pondasi untuk memulai disiplin hukum harus dimulai dg rasa bangga terhadap bangsa dan kemudian dilanjutkan dg harga diri yg tinggi sbg bangsa Indonesia. Informasi ini yg saya dapatkan saat mengunjungi museum lilin Madame Tussaud di Sentosa, krn di museum tsb diceritakan sejarah Singapura dari yg miskin tidak memiliki apa pun sampai bisa menjadi negara ketiga yg paling bersih dari korupsi.

Sepertinya hal yg sama juga terdapat pada Korea Selatan. Mereka benar2 bangsa yg sangat bangga dengan negaranya, very proud to be Korean 🙂

Apakah kita sudah bangga menjadi bangsa Indonesia?

Yuk follow “Good News from Indonesia”

Tip dan Trik untuk Sertifikasi Dosen

Tag

, , , ,

Patut diapresiasi inisiatif pemerintah dalam hal mengonline-kan database dosen seluruh Indonesia. Sekarang sudah ada Forlap Dikti untuk media pelaporan seluruh kegiatan perguruan tinggi, dimana kita bisa:

  • mencari status dan statistik perguruan tinggi
  • mencari status dan statistik dosen
  • mencari status dan statistik mahasiswa

Selain itu pemerintah juga telah melakukan sertifikasi terhadap tenaga pengajar dosen, yang dulu hanya menggunakan strata:

  1. Asisten Ahli (Lecturer)
  2. Lektor (Assistant Professor)
  3. Lektor Kepala (Associate Professor)
  4. Guru Besar (Professor)

sekarang setiap tenaga pengajar juga harus melalui proses sertifikasi untuk diakui sebagai dosen dengan istilah sertifikasi dosen (serdos). Tidak terasa sudah 2 tahun lalu saya mengikuti rangkaian tes sertifikasi dosen.

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui seorang dosen untuk bisa diakui melalui sertifikasi dosen, dan sudah banyak website yang membahasnya. Di sini saya hanya ingin sharing beberapa tip dan trik saat mengikuti ujian TKDA (Tes Kompetensi Dasar Akademik) yang memang lumayan sulit jika tidak memiliki strategi untuk menjawabnya.

TKDA dibagi menjadi 3 bagian tes:

  1. Verbal, untuk bagian ini saya mendapat nilai 688 (dari nilai sempurna 800)
  2. Numerikal, untuk bagian ini saya mendapat nilai 768 (dari nilai sempurna 800)
  3. Figural, untuk bagian ini saya mendapat nilai 800 (sempurna)

 

Untuk dapat menjawab bagian Verbal, perlu wawasan yang luas atas kosa kata (vocabulary). Tapi sedikit tip, nanti ada bagian yang mencari relasi, seperti misalnya:

pilot:pesawat = supir:………

untuk menjawab model soal spt ini, kita harus mencari kata atau kalimat yg dapat menghubungkan 2 kata pertama. Untuk contoh di atas, kata penghubungnya adalah “mengemudikan”, sehingga kalimat lengkapnya menjadi:

pilot mengemudikan pesawat = supir mengemudikan ………

sehingga jawabannya adalah “mobil”

 

Untuk dapat menjawab bagian Numerikal, yg dibutuhkan adalah konsentrasi dan estimasi. Karena akan sangat sulit untuk dapat menghitung seluruh soal dengan presisi, jadi harus pakai estimasi. Dengan estimasi kita memperkirakan jawaban mana saja yg kemungkinan besar salah sampai bisa menyisakan jawaban yg kemungkinan besar benar. Untuk kategori soal multiple choice, strategi ini lebih cepat dibandingkan benar2 menghitung untuk mendapatkan jawaban yg tepat.

 

Untuk dapat menjawab bagian Figural,yg dibutuhkan adalah kemampuan imajinasi. Sedikit tip untuk salah satu jenis soal 3D (yang mencari potongan gambar) adalah dengan menggambarnya di kertas coret2an lalu mencocokannya di layar monitor untuk masing2 jawaban. Sedangkan tip untuk jenis soal kubus, metodenya sama spt Numerikal yaitu mencari jawaban yg salah untuk mendapatkan yg benar. Ambil satu sisi sebagai acuan, lalu bandingkan dg setiap jawaban untuk mencari yg salah.

Semoga tips ini bisa membantu, dan jangan lupa yg terpenting adalah hati dan pikiran harus tenang, karena TKDA maupun TPA membutuhkan konsentrasi.

Smart IoT vs. Intelligent IoT

Tag

, , , , ,

Hari ini mendapat kesempatan membantu Signify Indonesia (Philips Lighting) mempromosikan produk barunya, Interact Pro yang masuk ke dalam kategori Smart Lighting, yaitu lampu yang bisa dikendalikan dan diprogram lewat smartphone spt layaknya IoT (Internet of Things).

presentasi Smart IoT

Peserta yang hadir cukup banyak, dan kebanyakan dari bidang kerja ME (Mechanical and Electrical). Beberapa juga hadir para decision maker, karena pada acara ini juga diberikan demo cara kerja produk Interact Pro dari Signify Indonesia yang bekerja sama dengan PT. Pelita Abadi Sejahtera (https://goo.gl/maps/1tKwVrc9Wt42), distributor resmi produk Philips Lighting.

Presentasi tentang Smart IoT saya arahkan ke efisiensi listrik, agar sesuai dengan topik dan target produk Interact Pro. Di akhir presentasi juga dijelaskan tentang topologi umum tentang IoT beserta berbagai protokol komunikasinya, spt Zigbee, Z-Wave, LoRa, NarrowBand-IoT, WiFi, Bluetooth LE, Mobile WSN, VANET, dll.

Namun fokus presentasi yang saya sajikan adalah pada future IoT, yaitu Intelligent IoT. Saat sidang terbuka S3 saya juga penguji menanyakan tentang konsep apa yang ada di Intelligent IoT, dan saya jelaskan perbedaannya:

Smart IoT, meskipun sudah tidak membutuhkan keterlibatan manusia dalam pengoperasian, namun aturan2 yang ditanamkan ke dalamnya bersifat predefined. Dalam artian aturan2nya bersifat fix dan hanya bisa diubah oleh admin.

Intelligent IoT, merupakan penggabungan antara Smart IoT dengan AI (Artificial Intelligence), dimana IoT memiliki kemampuan untuk learning dan growth, sehingga aturan2 yg tadinya bersifat predefined sekarang bisa bersifat fleksibel sesuai behavior dan karakter dari penggunanya.

Contoh dari Intelligent IoT adalah Jarvis dari Iron Man 🙂

Interact Pro

Sebagaimana layaknya Smart IoT, Interact Pro memiliki beberapa fitur spt bisa dikendalikan melalui smartphone, memiliki dashboard, dan yg menurut saya paling menarik adalah kemampuan dashboard dalam menampilkan informasi tentang penggunaan daya per lampu (lampu yg digunakan juga smart, sudah memiliki fitur pengukuran kWh yg digunakan dan dilaporkan ke Cloud untuk ditampilkan di dashboard).

File presentasi bisa diunduh disini.

Konser Musik dan Euphoria Anak Muda

Tag

, , ,

Beberapa hari lalu teman2 pada ribut dengan konser Guns N’ Roses dan malamnya pada pamer foto2 di lokasi konser. Rekaman2 smartphone pun bertebaran di berbagai channel, mulai dari sosial media sampai ke status dan profile picture internet messaging.

Mendengarkan rekaman2 smartphone jadi berpikir, sebenarnya apa yg dicari dengan nonton konser grup musik yg sudah cukup lawas tersebut? Kangen dengan suara Axl? Sepertinya kualitas suaranya sudah tidak sehebat dulu. Kangen dengan petikan gitar Slash? Kelincahan jari2nya juga sudah menurun.

Jadi apa yg dicari dari nonton konser tsb?
Kalau melihat dari foto2 penontonnya, usia mereka kebanyakan sudah di atas 30 tahun. Jadi sptnya memang yg dicari adalah suasananya, suasana di mana kita bisa mengenang masa muda, masa di mana kita bisa bebas berteriak dan menangis bahagia karena bisa dekat dengan idola kita  🙂

Spotify on Stage

Jadi teringat pertama kalinya menemani anak untuk menonton Spotify on Stage bulan Oktober lalu. Ada 2 idolanya yang akan manggung, yaitu Anne Marie dan Stray Kids. Saat masuk hall JIExpo sudah terasa aura yang sangat berbeda, aura passion dari anak2 muda yang begitu bergairah ingin segera berteriak dan (jika mungkin) bersalaman dengan idolanya.

Dan saat Anne Marie naik ke atas panggung, semua langsung berteriak dan berusaha ikut menyanyi. Untungnya teriakannya hanya saat Anne Marie naik ke atas panggung, sehingga selama perform semua penonton masih bisa ikut menyanyi bersama. Anne Marie memang luar biasa, dengan suaranya yg berat dan keren, dia bisa mengajak penonton untuk ikut bergembira dan bernanyi bersama.

Spotify on Stage - Stray Kids

Tapi suasana berubah drastis saat Stray Kids naik ke atas panggung. Penonton tidak hanya berteriak, namun sudah histeris. Penonton yang di depan berusaha mendesak semakin ke depan, sampai terlihat beberapa penonton wanita dibopong ke belakang karena pingsan. Anak saya yg berumur 12 tahun juga berteriak2 histeris, sampai minta digendong agar bisa melihat idolanya di atas panggung dengan jelas  🙂

Sampai Stray Kids sendiri terlihat sangat kuatir dengan kondisi tersebut, dan sempat menarik diri dari panggung dan menolak manggung jika kondisinya masih tidak kondusif.

Memang suasana konser musik di mana kita bisa berteriak bebas melepaskan emosi ternyata bisa menjadi daya tarik tersendiri. Sekarang bisa mengerti mengapa teman2 yang melakukan demonstrasi lebih suka melakukannya dengan berteriak2 meskipun panas terik dan hujan badai.

Menghormati Kearifan Budaya Lokal

Tag

, , ,

2018-11-03 10.23.50.jpg

berkunjung ke Kebun Binatang Bandung perlu pakai gelang akses dg QR Code, keren, tapi sptnya mubazir

Setelah 5 tahun akhirnya bisa ke Kebun Binatang Bandung lagi. Soalnya kalau lagi kuliah di ITB “katanya” nda boleh ke Kebun Binatang Bandung, karena bisa nda lulus-lulus dan akhirnya DO.

Kok masih percaya yg ginian?

Bagi saya sih bukan masalah percaya atau tidak, tapi masalah menghormati kearifan budaya lokal. Sama seperti di Bali dan Jawa, pasti ada alasan tertentu para tetua membuat mitos2 spt itu. Sepanjang bisa dijalani ya saya jalani saja 🙂

Di Bali, khususnya di keluarga besar saya, yaitu pande gong di Sawan, kami tidak dianjurkan makan ikan gabus karena katanya jaman dulu ikan tsb pernah membantu leluhur sehingga leluhur merasa berhutang budi. Hal ini juga saya jalani, meskipun kadang2 keceplosan karena ternyata ada beberapa ikan asin jambal yg dibuat dari ikan gabus.

Di Jawa juga demikian. Dari kecil saya dibiasakan oleh Ibu saya yang berasal dari Jawa untuk selalu menyapa orang lain dan saat makan di tempat umum agar selalu minta ijin untuk makan pada orang2 di sekitar kita (terutama yang duduk semeja). Hal ini selalu saya jalani, meskipun banyak orang jadi memandang curiga  🙂

You shouldn’t judge other by your standard

Singkat cerita, hari ini saya bisa berkunjung ke Kebun Binatang Bandung lagi setelah 5 tahun menyelesaikan kuliah di ITB. Banyak perubahan yg terjadi. Tiket masuk sekarang jadi 40rb tapi pakai pengamanan barcode spt tempat wisata lainnya, dan harga tsb sudah termasuk wahana perahu dayung.

2018-11-03 10.24.43.jpg

Binatang2 yg ada di Kebun Binatang Bandung juga terlihat lebih sehat dibanding dulu pas terakhir ke sini. Bahkan sudah ada atraksi hewan pada jam2 tertentu.

Salut pada Kebun Binatang Bandung yg telah bertransformasi.

Breakthrough Cyber Terror, Hoax, dan Confirmation Bias

Tag

, , , ,

Breakthrough Cyber Terror - Seminar

membawakan presentasi tentang Confirmation Bias pada Seminar Breakthrough Cyberterror

Hari ini mengisi acara seminar Breakthrough Cyber Terror sebagai pemeran pendamping. Pemeran utamanya mas Josua yg sudah well-respected di dunia cyber hacking. Karena materi yg dibawakan mas Josua adalah tentang teori dan praktik hacking, maka saya membawakan aspek yg berbeda agar tidak membosankan.

Materi yg saya bawa adalah tentang bagaimana caranya meyakinkan stakeholder bahwa system yg kita gunakan adalah aman. Caranya menggunakan aspek psikologis yg saat ini lagi lumayan booming, yaitu confirmation bias, atau myside bias.

Tapi, apa hubungan cyber terror dengan confirmation bias? Kenapa aspek ini yang digunakan sebagai materi diskusi?

Pada saat suatu hacking terjadi, yang paling terasa imbasnya adalah kepercayaan para stakeholder. Oleh karenanya sangat penting untuk menjaga kepercayaan stakeholder terhadap system yg digunakan.

Ada 2 pendekatan yg saya ungkapkan pada diskusi kali ini, yaitu:

  1. menggunakan aspek psikologi confirmation bias,
  2. menggunakan system yg sudah well respected.

Namun fokus diskusi ada pada poin nomor 1. Idenya adalah spt ini:

100 debunked hoax akan menjadikan event ke 101 dianggap sbg hoax

Jadi idenya adalah membuat banyak claim bahwa system bisa di-hack tapi kita bantah, tentunya, dengan eviden yg kuat. Jika hal ini dilakukan berulang2, akhirnya saat benar2 ada event yg true positive (claim system bisa di-hack), stakeholder akan menganggapnya sebagai hoax.

Diskusi memang akhirnya lebih banyak terjadi pada hoax di masyarakat, dan ada beberapa diskusi yg menarik dan perlu saya cantumkan di sini agar bisa jadi catatan buat saya.

  1. Apa yang harus kita lakukan untuk mengurangi penyebaran hoax?
    Presentasi yg saya bawakan ttg Confirmation Bias membahas aspek “bagaimana kita menanamkan informasi pada seseorang sebelum ada berita hoax, sehingga pada saat ada berita hoax seseorang tersebut akan menolaknya”. Kalau dari sudut pandang Confirmation Bias, terlihat sangat sulit menangkal hoax, karena seberapa pun keras dan seringnya kita membantah hoax dg bukti, tetap aja akan diterima sebagai fakta oleh sebagian orang, karena merasa nyaman dengan hoax tsb, dan itu lah Confirmation Bias. Jadi, menurut Confirmation Bias, sebelum ada hoax, kita bisa mencegahnya dg sering2 memuat fakta. Misalnya untuk menangkal hoax tentang harga sembako, kita bisa menayangkan harga sembako di tiap pasar induk, sehingga saat ada hoax yg mengatakan harga sembako sangat tinggi, orang yg membaca hoax tsb akan menolaknya karena telah tersimpan dalam ingatannya bahwa harga sembako sebenarnya stabil.
  2. Jika Facebook adalah sumber utama penyebaran hoax, kenapa tidak ditutup saja?
    Dari yang pernah saya baca, dari seluruh postingan di Facebook, hanya sebagian kecil yang hoax. Jadi sayang kalau Facebook ditutup hanya karena ulah sebagian kecil postingan. Yang bisa kita lakukan adalah memperbanyak postingan positif untuk menanamkan persepsi dan informasi pada semua teman kita di Facebook bahwa “all is well” [movie: 3 Idiots].
  3. Bagaimana caranya “menghapus” informasi hoax di dalam ingatan seseorang?
    Nah ini pertanyaan yg sulit, karena sudah membahas domainnya psikiater. Tapi dari yg pernah saya baca (lupa dari mana sumbernya), otak kita terdiri dari 3 bagian, dan salah satunya adalah yg disebut dengan “otak reptil”. Bagian otak ini, cmiiw, bisa “menghapus” informasi hoax saat orang tsb merasa terancam. Misalnya diciduk aparat keamanan karena pernah menyebarkan hoax, hal ini bisa mengaktifkan “otak reptil” dan menanamkan persepsi bahwa beberapa informasi yg diingatnya adalah hoax.

Link presentasi ada disini: Breakthrough Cyber Terror – Psychological Perspective.

Ikhlas vs. Apatis

Tag

, , , ,

Sidang Terbuka bersama para Penguji

Sidang Terbuka bersama para Penguji. Prof. Iwan, Prof. Riyan, Prof. Iping (promotor), saya, Bu Ulfa (co-promotor), Prof. Benhard, pa Wikan, dan Prof. Tengku

Sidang Terbuka, Rabu, 26 September 2018.

Akhirnya setelah 5 tahun lebih 2 bulan bisa juga menyelesaikan studi doktoral di ITB. Lama? relatif, karena dari angkatan saya, saya urutan yg ke-4 bisa menyelesaikan studi, tapi ternyata ada juga angkatan adik kelas yang bisa menyelesaikan studi doktoralnya hanya dalam waktu 3 tahun  😀

Setelah menyelesaikan sidang terbuka, semua mengajukan pertanyaan yg serupa:

gimana rasanya? sudah lega kan sekarang?

Hanya senyuman yg bisa saya berikan saat itu  🙂
kenapa? karena memang rasanya sama saja antara 6 bulan sebelum sidang dengan setelah sidang. Sampai akhirnya ada teman yg bertanya “kok bisa sih selalu tenang dan tersenyum?”

Baru saat itu saya sadar dan bertanya “iya ya, kenapa ya?”
Apakah ini artinya saya sudah bisa melakoni prinsip hidup “ikhlas dalam bekerja, dan pasrah terhadap hasilnya” sehingga tidak merasa cemas apalagi kuatir? Prinsip hidup tsb juga tertulis di dalam:

Bhagawad Gita 2:47
कर्मण्येवाधिकारस्ते मा फलेषु कदाचन।
Karmanye vadhikaraste Ma Phaleshu Kadachana

artinya: You have the right to work only, but never to its fruits

Setelah merenung dan merenung cukup lama, sptnya benar juga, saya sangat amat jarang merasa cemas dan kuatir terhadap sesuatu yg akan terjadi. Ini yang membuat saya, meskipun kadang terasa sulit, masih bisa tersenyum bahkan dalam keadaan sesulit apapun 🙂

Lalu saya jadi bertanya pada diri sendiri, apakah saya masih bisa tersenyum karena memang ikhlas dalam berusaha atau ternyata hanya karena apatis (nda pernah dibawa ke dalam pikirin, apalagi ke dalam hati/perasaan) ?

Saya jadi teringat dg keputusan saya menutup akun facebook saya karena sering membaca postingan yg bikin hati tidak tenang, dan ternyata memang setelah itu perasaan jadi tenang, bebas dari rasa marah atau kesal, semuanya terasa menyenangkan.

Tapi sekarang saya jadi sadar bahwa hati saya sekarang terasa tenang bukan karena bisa mengelola perasaan yg ikhlas tapi semata2 karena tidak adanya gangguan dari luar (misalnya membaca postingan di facebook). Akhirnya jadi teringat suatu pepatah yg entah dari mana saya dapatkan:

stress management itu bukan untuk meniadakan stress, tapi justru untuk bisa menerima stress namun dapat mengelolanya dg baik dan kemudian bisa tersenyum atas stress tersebut

Berarti saya masih harus banyak belajar untuk ikhlas, bukan dg menghindari energi negatif tapi justru berlatih agar saat berada di pusaran energi negatif tapi hati kita tetap positif tak terganggu.

Memang ikhlas dan apatis bukan dua sisi mata uang yg berkebalikan, namun untuk kasus ini mereka saling terkait. Ikhlas berarti seberat apapun beban yg kita terima, semua kita jalani dan tetap tersenyum bahagia. Apatis berarti menghindari adanya beban, sehingga kita bisa tersenyum bahagia

Sudah tersenyum kah kita hari ini? 🙂

Perploncoan dalam balutan MOS

Tag

,

Bulan Agustus, bulan di mana mahasiswa baru sedang memasuki tahapan untuk diterima sebagai mahasiswa di kampus yg disebut MOS (Masa Orientasi Studi).

Wait! Tahapan untuk diterima sebagai mahasiswa? bukannya sudah diterima ya?

Oh… itu mudah, ganti saja namanya dengan “calon mahasiswa baru”, toh nanti baru disahkan sebagai mahasiswa saat sidang senat terbuka setelah masa MOS selesai.

Jadi kalau nda ikutan MOS tidak bisa disahkan sebagai mahasiswa baru?

Sayangnya belum pernah ada yg berani untuk mengambil kemungkinan “emang kalau nda ikutan MOS, berani gitu nda menerima saya sebagai mahasiswa baru?” Semuanya pasrah dibentak, disuruh pake asesori aneh, menjalankan hukuman fisik.

Dulu kita memberi nama “plonco” untuk kegiatan ini, bahkan tidak jarang dilakukan di luar kampus dan dilakukan bertahap, mulai dari kampus, turun ke jurusan, lalu dilanjutkan oleh himpunan, turun lagi oleh unit kegiatan mahasiswa.

plon.co
(n) calon mahasiswa yang sedang mengikuti acara kegiatan pengenalan kampus

Itu adalah definisi plonco menurut KBBI (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/plonco). Nda ada aspek teriak, hukuman (push-up, squat jump), pake pakaian atau asesori yg aneh2, dan juga nda ada tugas yg aneh2. Hanya pengenalan kampus.

Tapi kalau ada MOS (masa orientasi studi) atau MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah) yg ada  teriak dan hukuman, apakah itu berarti kampusnya yg sedang dikenalkan ke mahasiswa baru memang spt itu?

Nda kebayang kalau para panitia yg teriak2 tsb diperlakukan sama saat mereka sidang skripsi, apakah mereka akan mau menerima alasan “biar nda cengeng” dan “biar kuat menghadapi kenyataan hidup” ?

Saat kuliah di luar, MOS isinya adalah pengenalan kampus. Dibagi ke dalam grup2 kecil sekitar 10 orang, di-assign ke 1 orang senior, lalu diajak keliling, memperkenalkan kehidupan kampus. Dimana laboratorium dan gimana cara makai laboratorium. Dimana perpus dan gimana caranya pinjam buku di perpus. Dimana student center dan gimana caranya gabung ke salah satu unit mahasiswa.

Mudah2an kedepannya tidak ada lagi budaya premanisme yg sudah menjadi legacy selama puluhan tahun ini 🙂

Belajar tentang semangat hidup dari Naruto

Tag

, , , , ,

Anime!

Sejak pertama kali membaca manga DragonBall, langsung suka. Apalagi ada manga yg berwarna spt Tapak Sakti dan Tiger Wong, dan kebahagiaan pun bertambah saat Gramedia Merdeka (Bandung) menyediakan 1 koleksi yg terbuka dan membolehkan pengunjung membacanya, sepanjang dibaca sambil berdiri  😀

Itu jaman kuliah yg harga buku komik lumayan mahal untuk ukuran mahasiswa yg dengan Rp 800 sudah bisa buat beli sepiring nasi goreng plus telor dadar (atau dicampur)

Sekarang sudah malas membaca manga, lebih seru nonton versi anime-nya karena lebih hidup dan banyak side story (cerita tambahan yg tidak ada di versi komik manga-nya). Banyak anime yg sudah ditonton, tapi sampai saat ini yg paling bekesan adalah Naruto sampai Naruto Shippuden-nya. Bahkan sampai saat anak bertanya ttg “dapat tugas bercerita di sekolah, enaknya cerita apa ya pa?” saya jawab “kenapa nda Naruto aja?”…. dan spt sebuah keniscayaan, respon saya disambut dg gelak tawa  😀

Meskipun jurus2 ninja-nya banyak yg sureal dan aneh, sebenarnya banyak yg bisa kita pelajari dari kisah hidup Naruto dan Sasuke, saingan dan sekaligus juga sahabatnya. Mereka sama2 yatim piatu sejak kecil, mereka sama2 dipersekusi oleh penduduk desa Konoha, mereka sama2 dalam 1 team ninja. Naruto bercita2 ingin menjadi hokage, pimpinan tertinggi desa Konoha, dan Sasuke bercita2 ingin membalas dendam pada kakaknya yg membantai seluruh keluarga besarnya.

Namun mereka memilih jalur yg sangat berbeda untuk mendapatkan tujuannya. Naruto berusaha berteman dg penduduk desa yg memusuhinya agar mereka mau mengakui keberadaan Naruto, bahkan sampai melindungi penduduk desa saat diserang oleh Pain Nagato. Sebaliknya, Sasuke memilih untuk memusuhi balik penduduk desa yg tidak mendukungnya, bahkan ingin membantai semua yg mendukung pembantaian keluarga besarnya.

Berikut yg saya dapatkan dari Internet ttg apa yg bisa kita pelajari dari setiap karakter di dunia Naruto:

Naruto is a show of many wisdoms.

Iruka taught me… not to judge people by their reputations but by their personalities.
Haku taught me… that there is no good or evil when you’re protecting the ones you love.
Neji taught me… that if you leave your pride behind you can change your destiny.
Rock Lee taught me… that hard work beats talent.
Kakashi taught me… that teamwork and friendship stand above the rules.
Hinata taught me… that love is worth fighting for.
Sai taught me… that a life without feeling isn’t worthwhile.
Sakura taught me… that weakness is a choice, not an excuse.
Gaara taught me… how painful loneliness can be and how love can change someone.
Nagato taught me… that revenge and hatred only lead to more revenge and hatred.
Asuma taught me… how important it is to take care of the next generation.
Shikamaru taught me… that sometimes you even have to do the things that bother you the most.
Might Gai taught me… that it doesn’t matter what other people say about you.
Minato and kushina taught me… that parent’s love beat all else.
Sarutobi taught me… that problems should be solved with kindness rather than with violence.
Sasuke taught me… that you should not only dream about things but actually achieve them.
Itachi taught me that… sometimes you have to make sacrifices for the greater good.
Tsunade taught me… to never abandon the living for the dead.
Jiraya taught me… that you must never give up your faith in humanity and your hope of peace.
Obito taught me… that it is never too late to revert to the right way.
Madara taught me… that peace is no peace without freedom.
And Naruto… well, we all know that Naruto taught us a lot. but the most important thing is: no matter what happens in your life…

NEVER GIVE UP !!! BELIEVE IT!?

Jadi ingat berbagai peristiwa yg terjadi di sekitar kita. Setiap berita selalu ada 2 tanggapan, ada yg menanggapi positif dan ada yg menanggapi negatif. Parahnya bahkan sampai terjadi dikotomi dan labelisasi. Padahal itulah Rwa Bhinneda, selalu ada sisi positif dan sekaligus juga sisi negatif dari apa pun. Sekarang tergantung kita mau melihat sisi mananya, mau lihat sisi negatif sehingga perasaan dan pikiran kita jadi tercemar, atau melihat dari sisi positif sehingga kita bisa bahagia dan worry-free.

Sama spt Naruto, banyak yg tidak mau menonton atau mengijinkan anak2nya menonton Naruto. Kalau saya sih anak2 saya ajak nonton (sepanjang masih sesuai rating-nya) tentunya sambil didampingi untuk menjelaskan saat ada adegan yg tidak normal, dan setelah selesai menonton saya ajak diskusi untuk menggali pelajaran baik apa saja yg bisa kita ambil dari film tadi.

Pilihan hidup: selalu berpikir positif  🙂

Dosen Pintar nda Bisa Ngajar?

Tag

, , , , ,

Sejak jaman sekolah SMP, saya sudah mulai memperhatikan cara guru mengajar. Dan saat itu sudah timbul pertanyaan di benak saya, kenapa ada guru yg pintar mengajar dan ada juga guru yg nda bisa mengajar. Ternyata sampai sekarang pun setelah banyak baca2 buku tentang kecerdasan (intelligence) masih juga belum paham benar alasannya.

Ada rekan dosen yang saya sangat yakin beliau sangat pintar dalam memahami formulasi matematis tapi ternyata saat ngobrol dengan mahasiswa mereka pada nda ngerti beliau jelasin apa. Tapi ada juga rekan dosen yang saya anggap tidak superior dalam hal berpikir logis, ternyata mahasiswa pada berebut pingin masuk ke kelasnya karena katanya ngajarnya enak dan mudah diikuti.

Secara teori, ada 9 jenis kecerdasan (Wikipedia):

  1. Kecerdasan musikal, terkait dengan sensitivitas pada suara, ritme, nada, dan musik
  2. Kecerdasan visual, terkait dengan melakukan visualisasi atas apa yg pernah dilihat
  3. Kecerdasan verbal, terkait dengan penyusunan kata dan bahasa
  4. Kecerdasan logis, terkait dengan kemampuan berlogika, berabstraksi, dan mengambil kesimpulan
  5. Kecerdasan motorik, terkait dengan kemampuan mengontrol gerakan tubuh
  6. Kecerdasan sosial, terkait dengan kemampuan berinteraksi dan berempati dengan orang lain
  7. Kecerdasan pribadi, terkait dengan kemampuan mengeksplorasi dan menilai diri sendiri
  8. Kecerdasaran alam, terkait dengan kemampuan berinteraksi dengan alam flora dan fauna
  9. Kecerdasan eksistensi atau spiritual

Kalau melihat pembagian kecerdasan di atas, kecerdasan verbal dan kecerdasan logis memang berbeda. Jadi mungkin ini yg menyebabkan dosen pintar (cerdas logis) belum tentu pintar ngajar (yg membutuhkan cerdas verbal).

Tapi jika kecerdasan adalah bakat (baca “Antara Kompetensi Hobby dan Bakat“), kenapa ada dosen yg dulu saat mahasiswa sangat menonjol kecerdasan logisnya tapi tidak memiliki kecerdasan verbal (susah ngomong), sekarang setelah beberapa tahun menjadi dosen menujukkan kecerdasan verbal yg luar biasa (dosen fave karena pinter ngajar) tapi saat diskusi logika dan formula matematika terasa lola (loading lama) ya?